Bandar Lampung (Lampost.co) — Perjalanan penyeberangan laut pada angkutan Lebaran 1447 H/2026 M harapannya lebih terjangkau, tertib, dan nyaman. Terlebih melalui kebijakan stimulus diskon tarif serta penerapan skema single tarif.
Kebijakan ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama lintas kementerian dan lembaga terkait pengaturan lalu lintas dan layanan penyeberangan selama masa Angkutan Lebaran 2026. Serta Surat Direktur Jenderal Perhubungan Darat mengenai penerapan tiket satu harga (dynamic pricing) pada lintas Merak–Bakauheni.
“Program stimulus berlaku selama 20 hari, mulai 12 hingga 31 Maret 2026. Mencakup 14 pelabuhan dan berdampak pada 7 lintasan reguler maupun ekspres,” kata Direktur Utama ASDP, Heru Widodo dalam siarannya, Senin, 23 Februari 2026.
Total kebutuhan anggaran stimulus mencapai Rp35,55 miliar dengan estimasi penerima manfaat langsung sebanyak 403.487 penumpang dan 945.501 kendaraan, atau setara ±2.403.928 orang berdasarkan asumsi konversi jumlah penumpang dalam kendaraan.
Stimulus diberikan dalam bentuk diskon 100% tarif jasa kepelabuhanan yang secara rata-rata setara 21,9% dari total tarif tiket penyeberangan.
Pemberian diskon berlaku pada lintasan Merak–Bakauheni (Reguler PP), Merak–Bakauheni (Eksekutif PP), Ketapang–Gilimanuk (PP), Lembar–Padangbai (PP), Kayangan–Pototano (PP), Tanjung Uban–Telaga Punggur (PP), Ajibata–Ambarita (PP), serta Sape–Labuan Bajo (PP).
Diskon tarif transportasi ini berlaku terbatas bagi penumpang pejalan kaki dan kendaraan penumpang. Untuk layanan reguler, stimulus berlaku bagi pejalan kaki, kendaraan Gol II dan Gol IVA. Sedangkan pada layanan eksekutif berlaku bagi pejalan kaki dan kendaraan Gol II.
Single Tarif
Selain stimulus diskon, lintas penyeberangan Merak–Bakauheni juga menerapkan kebijakan single tarif. Skema ini berlaku pada 13 Maret 2026 pukul 12.00 WIB hingga 20 Maret 2026 pukul 15.00 WIB untuk keberangkatan dari Pelabuhan Merak. Serta 23 Maret 2026 pukul 00.00 WIB hingga 29 Maret 2026 pukul 24.00 WIB untuk keberangkatan dari Pelabuhan Bakauheni.
Dalam periode tersebut, tidak terdapat perbedaan tarif bagi layanan reguler dan ekspres. Skema single tarif ini dengan menyamakan tarif layanan eksekutif dengan tarif layanan reguler pada golongan pejalan kaki dan kendaraan penumpang.
Sejalan dengan pengaturan tersebut, pola layanan operasional di dermaga akan pemerintah sesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan pengaturan trafik.
Pengguna jasa akan dapat pelayanan sesuai penempatan kapal dan dermaga yang telah diatur. Sehingga pada periode ini tidak terdapat pemilihan layanan reguler maupun ekspres berdasarkan preferensi waktu. Melainkan mengikuti pengaturan operasional yang ditetapkan guna menjaga kelancaran arus penyeberangan.
Heru Widodo menegaskan kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional pengelolaan trafik dan pelayanan publik.
“Melalui stimulus dan single tarif, kami ingin memastikan mudik Lebaran 2026 berlangsung lebih tertib, terjangkau, dan lancar. Ini adalah bentuk kolaborasi untuk menghadirkan perjalanan penyeberangan yang aman sekaligus meringankan beban masyarakat,” ujarnya.
Beli Tiket Lebih Awal
Corporate Secretary ASDP Windy Andale menyampaikan, ASDP memastikan kesiapan sistem penjualan tiket, sosialisasi kepada pengguna jasa, dan monitoring penyerapan penerima manfaat. Serta koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan.
Untuk mendukung kelancaran arus penyeberangan, masyarakat agar memesan tiket lebih awal melalui Ferizy yang dapat diakses sejak H-60. Tiket akan terkirim melalui WhatsApp maupun email dengan dukungan pembayaran digital. Sehingga jadwal perjalanan dapat masyarakat rencanakan lebih pasti sekaligus menghindari antrean panjang saat periode puncak.
Pengguna jasa harus memiliki tiket sebelum tiba di pelabuhan. Melakukan perjalanan sesuai jadwal keberangkatan yang tertera pada tiket. Serta memastikan pengisian data dan identitas penumpang dilakukan secara lengkap dan benar. Langkah ini guna mendukung kelancaran layanan selama periode angkutan Lebaran.
Dengan kebijakan ini, perjalanan mudik bukan sekadar perpindahan antarpulau, melainkan perjalanan penyeberangan yang dikelola dengan kepastian, kolaborasi, dan kepedulian. Hal ini agar setiap masyarakat dapat tiba di kampung halaman dengan selamat dan penuh kebahagiaan.








