Jakarta (Lampost.co)— Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-67 Sangha Agung Indonesia (SAGIN) berlangsung khidmat dan meriah di Prasadha Jinarakkhita, Jakarta, Sabtu (18/4). Kegiatan yang digelar pada sesi II pukul 13.00–15.00 WIB ini dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Pattijaya, SE. MM., anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, SE., MM. serta tokoh-tokoh lintas agama.
Dalam laporan panitia, Ketua Panitia Harlah, Y.M. Biksu Bhadranatha, Thera, menyampaikan bahwa acara diikuti lebih dari 1.000 peserta dan sekitar 150 anggota Sangha yang terdiri dari biksu dan biksuni. Ia juga menyoroti capaian program unggulan dalam rangkaian harlah tahun ini, yakni kegiatan “Sangha Mengajar” dari tiga tradisi serta gerakan penanaman pohon di 29 provinsi di Indonesia.
“Dari target awal 6.700 pohon, realisasi penanaman mencapai 9.700 pohon. Ini menunjukkan komitmen nyata umat Buddha terhadap pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Nasaruddin Umar, dalam pidato kuncinya menekankan pentingnya nilai-nilai ajaran Buddha yang berakar kuat dalam sejarah. Ia menyinggung keteladanan Siddhartha Gautama sebagai seorang bangsawan yang meninggalkan kemewahan istana demi mencari kebenaran melalui kehidupan pertapaan.
“Nilai historis ini menjadi inspirasi bagi pemuka agama dan para penyelenggara negara untuk menjalankan tugas dengan integritas, kesederhanaan, dan dedikasi,” kata Nasaruddin Umar.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Agama juga meresmikan pembukaan Pameran Relik Para Maha Guru Sangha yang berlokasi di Balai Kenangan Prasadha Jinarakkhita melalui prosesi pengguntingan pita bersama Ketua Umum PP MBI, Ketua Umum PP SAGIN, dan Ketua Komisi XII DPR RI.
Momentum penting dalam puncak perayaan ini ditandai dengan peluncuran film dokumenter berjudul “Y.M. MNS. Ashin Jinarakkhita, Mahasthavira: Jejak Langkah Sang Pelopor di Nusantara”. Film ini dihadirkan sebagai upaya menghidupkan kembali semangat Buddhayana dengan menelusuri perjalanan, perjuangan, dan warisan pemikiran tokoh pelopor Buddhayana di Indonesia.
Ketua PP MBI, UAP. Amin Untario, ST, menyampaikan bahwa film dokumenter tersebut telah memperoleh izin tayang dan akan segera menjangkau publik secara luas. “Film ini akan ditayangkan di seluruh bioskop di Indonesia, diprakarsai oleh Majelis Buddhayana Indonesia bersama Sangha Agung Indonesia melalui perwakilan di berbagai daerah,” ujarnya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan doa lintas agama yang diikuti enam perwakilan agama sebagai simbol persatuan dan toleransi. Dari perwakilan umat Buddha, doa dipimpin oleh Y.M. Biksu Dharmavimala, Mahathera.
Di sela kegiatan, Biksu Dharmavimala menjelaskan bahwa praktik doa lintas agama merupakan cerminan semangat Buddhayana yang mengedepankan harmoni dalam keberagaman. “Ajaran Buddha mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tetap relevan dalam kehidupan modern. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari transformasi sosial dan spiritual,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa Buddhayana bukanlah sekte, melainkan representasi ajaran Buddha yang inklusif dan terbuka.
Sebagai penutup, panitia memberikan plakat penghargaan kepada berbagai pihak, termasuk pengurus PP MBI dan badan otonomnya, PP Permabudhi, tiga perguruan tinggi keagamaan Buddha, serta tokoh-tokoh agama Buddha lainnya. Salah satu penerima plakat, Ketua STIAB Jinarakkhita Lampung, Dr. Burmansah, M.Pd, yang juga dikenal sebagai Biksu Nyanabandhu Sakya, Sthavira, menyampaikan bahwa sebagai kampus Buddhayana, kehidupan kampus STIAB Jinarakkhita Lampung tidak terlepas dari peran Sangha Agung Indonesia.
“Kampus kami bernafas Buddhayana, dan napas itu adalah Sangha Agung Indonesia yang didirikan oleh mendiang Y.M. MNS. Ashin Jinarakkhita, Mahastavira. Kami adalah kelanjutan dari perjalanan panjang perjuangan beliau,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan kesinambungan nilai, ajaran, dan semangat perjuangan pendiri Buddhayana di Indonesia dalam dunia pendidikan tinggi keagamaan Buddha.
Peringatan Harlah ke-67 SAGIN tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga mempertegas peran aktif umat Buddha dalam membangun kehidupan berbangsa yang harmonis, toleran, dan berkelanjutan.





