Lampung Selatan (Lampost.co)—- Pelaksanaan ibadah salat Jumat di Masjid Al Hijrah, Kota Baru, pada Jumat, 6 Maret 2026, menghadirkan suasana berbeda.
Naufal Rapasha mahasiswa Program Studi Teknik Informatika (TI) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Kampus Terbaik di Lampung, tampil sebagai khatib dengan membawakan khotbah inspiratif berjudul “Agar Puasa Kita Tidak Sekadar Lapar dan Dahaga”.
Dalam penyampaiannya, Naufal mengingatkan jemaah akan sabda Rasulullah SAW mengenai banyaknya orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan haus tanpa pahala.
Baca juga: Universitas Teknokrat Indonesia Salurkan Zakat Mal ke Panti Asuhan Ummi May
Ia menekankan bahwa Ramadan harus menjadi momentum transformasi diri melalui sembilan esensi penting, mulai dari sebagai bulan pendidikan (tarbiyah), bulan ibadah, hingga bulan dakwah.
“Puasa yang benar adalah yang mampu melatih kita mengendalikan hawa nafsu, memperkuat ukhuwah, dan meningkatkan empati melalui sedekah. Ramadan bukan sekadar rutinitas, tapi sarana memperbaiki akhlak dan iman,” ujar Naufal di hadapan jemaah.
Naufal juga merinci bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan jihad melawan kemalasan, sehingga setiap detik di bulan suci ini bernilai ibadah dan manfaat.
Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari Rektor Universitas Teknokrat Indonesia yang juga Ketua Badan Pengelola Masjid Al Hijrah Dr. HM Nasrullah Yusuf, SE., MBA.
Baca juga: Universitas Teknokrat Indonesia Salurkan Zakat Mal ke Panti Asuhan Daarul Alya
Dr. Nasrullah menyatakan rasa bangganya melihat mahasiswa Teknokrat tidak hanya unggul di bidang teknologi dan akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kemampuan retorika dakwah yang baik.
“Kami sangat mendukung keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan keagamaan seperti ini. Ini adalah bukti nyata bahwa pembinaan karakter di Universitas Teknokrat Indonesia berjalan seimbang antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai religius,” ungkap Nasrullah.
Ia menambahkan bahwa keberanian mahasiswa tampil di mimbar merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang positif.
“Semoga pesan yang disampaikan Naufal menjadi pengingat bagi kita semua agar Ramadan tahun ini jauh lebih berkualitas dan membawa perubahan nyata pada kepribadian kita ke arah yang lebih mulia,” kata dia.
Ia menambahkan kegiatan keagamaan yang diisi mahasiswa ini terkait juga dengan poin-poin dalam SDGs:
SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
Kegiatan ini menunjukkan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya fokus pada kurikulum teknis (Teknik Informatika), tetapi juga memberikan pendidikan holistik. Melatih mahasiswa menjadi khatib adalah bentuk pengembangan soft skills, publik speaking, dan karakter yang mencetak lulusan kompeten secara moral dan intelektual.
SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities)
Pesan khotbah mengenai “Ramadhan sebagai Bulan Sedekah dan Ukhuwah” mendorong jemaah untuk memperkuat empati dan aksi berbagi. Secara tidak langsung, ini mendukung redistribusi kesejahteraan di masyarakat untuk mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi melalui instrumen keagamaan.
SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice, and Strong Institutions)
Ramadan sebagai “Bulan Dakwah dan Ukhuwah” yang disampaikan khatib bertujuan menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Peran kampus dalam menyediakan mimbar edukasi bagi mahasiswa membantu memperkuat institusi lokal (masjid) sebagai pusat pencerahan yang moderat.
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Sinergi antara Universitas Teknokrat Indonesia dengan Masjid Al Hijrah Kota Baru menunjukkan kemitraan strategis antara institusi pendidikan dan lembaga keagamaan/masyarakat untuk mencapai tujuan pembangunan karakter bangsa yang berkelanjutan.
Adapun Universitas Teknokrat Indonesia mengusung konsep Kampus Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan (KIBB) menekankan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang kreatif, relevan, dan berwawasan lingkungan.
Kampus fokus pada penelitian aplikatif, pemecahan masalah masyarakat (sosial, ekonomi, teknologi), serta menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian, seperti yang diterapkan di Universitas Teknokrat Indonesia dan inisiatif Kampus Berdampak Kemdiktisaintek. Program ini merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka yang bertujuan agar perguruan tinggi menjadi pusat solusi bagi permasalahan kompleks di masyarakat.










