Bandung (Lampost.co)— Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa tidak ada dampak sekunder seperti keretakan tanah di Jawa Barat dan sekitarnya setelah terjadi gempa dangkal berkekuatan 5 magnitudo pada Rabu pagi.
Menurut Kepala Badan Geologi, M. Wafid, gempa tersebut tidak menyebabkan sesar permukaan atau bahaya ikutan seperti retakan tanah. “Penurunan tanah, gerakan tanah, atau likuefaksi. Selain itu, gempa yang berpusat di darat ini juga tidak berpotensi menyebabkan tsunami,”ucapnya.
Meskipun demikian, masyarakat pihaknya imbau untuk tetap waspada. Karena wilayah yang merasakan gempa berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) dengan tingkat kerawanan gempa menengah hingga tinggi.
Berdasarkan laporan BPBD Jawa Barat, gempa tersebut menyebabkan kerusakan rumah di beberapa desa di Kabupaten Bandung dan Garut.
Wafid menjelaskan bahwa daerah pusat gempa mendominasi oleh morfologi perbukitan bergelombang dengan batuan berumur kuarter, yang sebagian sudah lapuk dan mudah terurai.
“Sehingga memperkuat dampak getaran gempa berkekuatan 5 magnitudo, penduduk yang rumahnya rusak di minta untuk mengungsi ke tempat aman sesuai arahan petugas BPBD,”sebutnya.
Sebelumnya, BMKG melaporkan bahwa pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer. Dan dipicu oleh aktivitas Sesar Garut Selatan-Cilacap (Sesar Garcela).
Gempa ini terasa di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Banjaran, Lembang, Parompong. Lalu Kabupaten Bandung Barat, Baleendah, Garut, dan Majalaya, dengan intensitas bervariasi antara II hingga IV MMI.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update
Hari Raya Idul Adha Cuaca Lampung Cerah Berawan
27 Mei 2026
Sering Diejek Jadi Motif Pelajar SMP Tikam Rekannya
27 Mei 2026
Jutaan Petani Lampung Bergantung pada Komoditas Jagung, Padi, Singkong
26 Mei 2026
Kementan Dukung Akselerasi Swasembada Pangan Berkelanjutan di Lampung
26 Mei 2026
Pemerintah Dongkrak Kesejahteraan Petani Lewat Tata Niaga dan Stabilitas Harga
26 Mei 2026
Luas Tambah Tanam di Lampung Melonjak 25 Ribu Hektare
26 Mei 2026