Belem (Lampost.co) — Indonesia dan Inggris resmi menandatangani memorandum of understanding (MoU) perubahan iklim di sela-sela Konferensi Para Pihak (COP 30) di Belem, Brasil. Penandatanganan menandai langkah baru dalam penguatan diplomasi hijau Indonesia di panggung global sekaligus mempertegas komitmen menuju ekonomi rendah karbon.
Poin Penting:
-
Indonesia–Inggris tanda tangani MoU perubahan iklim di COP 30 Brasil.
-
MoU sejalan dengan Perpres 110/2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon.
-
Indonesia perkuat posisi global dalam diplomasi hijau dan ekonomi rendah emisi.
Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dan Secretary of State for Energy Security and Net Zero Inggris, Ed Miliband meneken perjanjian. Kedua negara sepakat mempercepat transisi energi bersih, memperkuat mitigasi perubahan iklim, serta mengembangkan sistem pasar karbon berintegritas tinggi.
Diplomasi Hijau Indonesia Semakin Menguat
Dalam sambutannya, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kemitraan Indonesia–Inggris bukan sekadar kerja sama bilateral, tapi komitmen global untuk masa depan Bumi.
Baca juga: COP 30 Belum Hasilkan Terobosan Atasi Krisis Iklim Global
“Kemitraan ini bukan hanya antara dua negara, tetapi pernyataan bersama untuk Bumi yang lebih baik. Indonesia siap menjadi mitra strategis dunia dalam mendorong solusi nyata terhadap krisis iklim global,” ujar Hanif, Jumat, 8 November 2025.
Ia juga menambahkan MoU perubahan iklim Indonesia–Inggris menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kolaborasi aksi iklim internasional. “Solusi berbasis alam dan teknologi harus berjalan seimbang untuk menurunkan emisi karbon secara signifikan,” katanya.
Inggris Dukung Penuh Transisi Rendah Emisi
Sementara itu, Ed Miliband menyampaikan apresiasi terhadap langkah Indonesia dalam mempercepat pembangunan rendah karbon dan perlindungan hutan tropis. “Kami bangga bermitra dengan Indonesia. Kolaborasi ini akan mempercepat transisi menuju nol emisi bersih (net zero) dan memperkuat integritas aksi iklim global,” kata Miliband.
Selain itu, MoU mencakup kerja sama di bidang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan tata kelola karbon yang transparan. Kemudian integrasi kebijakan pembangunan rendah karbon di tingkat pusat dan daerah.
Sebagai tindak lanjut, kedua negara akan membentuk joint steering committee (JSC) yang bertugas mengoordinasikan pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program kerja sama iklim secara berkelanjutan.
Fokus pada Energi, FOLU, dan Pasar Karbon
Dalam kesepakatan itu juga Inggris menyatakan ketertarikan pada sektor energi terbarukan, forestry and other land use (FOLU), serta tata kelola karbon yang mendukung rantai pasok global berkelanjutan.
Sementara Indonesia menitikberatkan kerja sama pada penguatan undang-undang perubahan iklim, pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, serta biodiversity credits dan fasilitasi pertemuan antara penjual dan pembeli karbon internasional.
Kolaborasi juga akan mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Selain itu, memperkuat target nationally determined contribution (NDC) Indonesia.
Hanif juga mengungkapkan kerja sama membuka peluang transaksi karbon hingga 90 juta ton CO₂ ekuivalen dari berbagai sektor dengan nilai ekonomi mencapai Rp15 triliun.
Langkah Nyata Transisi Energi dan Aksi Iklim
Menurut Hanif, diplomasi lingkungan kini memasuki babak baru. “Diplomasi lingkungan tidak berhenti di meja negosiasi. Dunia membutuhkan langkah nyata, dan Indonesia siap berada di garis depan bersama negara-negara mitra,” ujarnya.
Ia menekankan MoU menjadi simbol komitmen Indonesia menuju masa depan hijau. Selain itu, memperkuat peran nasional dalam mencapai target FOLU Net Sink 2030. Selain itu, memperluas akses pada pendanaan iklim global.
“Dengan kerja sama ini, kita tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi, tetapi juga tentang keadilan iklim dan keberlanjutan ekonomi,” katanya.








