Jakarta (Lampost.co) – Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menilai Indonesia memiliki sistem demokrasi republik orisinil. Ini yang menjadi pembeda dengan negara demokrasi yang lain. Menurut Komarudin, sistem demokrasi republik yang dianut Indonesia lahir keberagaman masyarakat Indonesia dari segi budaya, adat istiadat hingga agama.
“Demokrasi Indonesia ini bukan impor tetapi punya akar historis dan empiris. Bukan namanya republik demokrasi dari barat ya. Tapi dia punya akar historis yang plural,” Komarudin saat menjadi pembicara di acara Sarasehan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Ideologi Pancasila, Cita dan Nyata di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa, 27 Januari 2026.
Namun demikian, Komarudin mengatakan masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya bisa menerima sistem demokrasi pada awal-awal berdirinya negara. Hal tersebut karena masyarakat masih kental dengan konsep feodalisme yang kental akan unsur-unsur kerajaan.
Hal ini yang membuat masyarakat masih tunduk terhadap satu orang hanya karena ketokohannya, bahkan hingga saat ini. Padahal, lanjut Komarudin, pada masa awal berdirinya negara, seluruh raja rela menyerahkan tahta kerajaan kepada negara. Ini demi terciptanya persatuan bangsa.
“Budayanya budaya kerajaan tapi instrumen negara demokrasi. Ini yang saya katakan Indonesia itu setengah kerajaan setengah demokrasi,” jelas Komarudin.
Walau demikian, sistem demokrasi ini teranggap yang paling tepat hingga saat ini. Dengan adanya sistem demokrasi ini, harapannya pemerintah dapat mengakomodir seluruh aspirasi masyarakat demi kemajuan bersama.








