Jakarta (Lampost.co)–– TikTok menepis tudingan bahwa unit operasional barunya di Amerika Serikat melakukan pembatasan atau pengendalian ketat terhadap konten pengguna. Menyusul gelombang keluhan dari warganet terkait penurunan jangkauan unggahan dan gangguan teknis di platform tersebut.
Isu ini mencuat tidak lama setelah TikTok US resmi beroperasi secara terpisah dari perusahaan induknya, ByteDance, menyusul kesepakatan restrukturisasi kepemilikan yang melibatkan konsorsium investor Amerika dan Timur Tengah.
Ribuan pengguna di AS melaporkan unggahan mereka tidak muncul di linimasa. Tidak masuk hasil pencarian, bahkan tidak memperoleh satu pun penayangan.
Baca juga: Pengguna TikTok Bisa Bernapas Lega, Kominfo Cabut Pembekuan
Menanggapi hal itu, juru bicara TikTok US dalam keterangan tertulis kepada BBC menegaskan tidak ada kebijakan sensor baru yang diberlakukan.
Proses Transisi Infrastruktur
Perusahaan menyatakan gangguan yang terjadi murni menyebabkan oleh masalah teknis selama proses transisi infrastruktur data dan sistem internal pasca-pemisahan dari ByteDance.
“Tantangan yang kami hadapi berkaitan dengan penyesuaian sistem dan pemindahan beban operasional ke infrastruktur baru. Kami telah mencatat kemajuan signifikan dalam proses pemulihan bersama mitra pusat data kami di Amerika Serikat,” kata perwakilan TikTok.
TikTok juga membantah klaim sejumlah pengguna yang menyebut kata atau nama tertentu—termasuk “Epstein”—tidak dapat digunakan di platform.
Khususnya dalam pesan langsung. Perusahaan menegaskan tidak ada larangan terhadap penggunaan nama tersebut. Nama “Epstein” merujuk pada Jeffrey Epstein, terpidana kasus kejahatan seksual yang meninggal dunia di penjara. Hingga kini masih kerap mengkaitkan dengan kontroversi politik di AS, termasuk sorotan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Keluhan pengguna mulai meluas beberapa hari setelah kesepakatan pemisahan TikTok US diumumkan pekan lalu.
Banyak kreator mengaku unggahan baru mereka seolah “dibekukan”, tidak mendapatkan penyaluran algoritma, dan berhenti di angka nol penayangan dalam waktu lama.
Klarifikasi dari TikTok
Di tengah klarifikasi dari TikTok, isu ini menarik perhatian pejabat negara bagian. Gubernur California Gavin Newsom secara terbuka mengumumkan mulainya penyelidikan awal terkait dugaan penekanan terhadap konten politik tertentu.
Terutama unggahan yang bersifat kritis terhadap Presiden Trump. Kantor Newsom mengklaim telah menerima sejumlah laporan dari pengguna dan kreator. Serta menemukan indikasi bahwa konten tertentu tidak muncul di linimasa maupun hasil pencarian.
Salah satu kasus yang menyorot adalah unggahan terkait penembakan seorang perawat ICU bernama Alex Pretti oleh agen federal di Minneapolis.
Konten mengenai peristiwa tersebut di laporkan tidak mendapatkan jangkauan sebagaimana mestinya, sehingga memicu kecurigaan adanya pembatasan penyaluran.
Newsom menyatakan perlu melakukan penelaahan lebih lanjut untuk memastikan apakah TikTok melanggar hukum negara bagian California. Khususnya terkait kebebasan berekspresi dan transparansi platform digital.
Saat ini, TikTok US dikelola oleh konsorsium investor yang mencakup Oracle sebagai mitra pusat data utama, perusahaan investasi Silver Lake, serta MGX, investor asal Uni Emirat Arab.
Kegagalan Unggah
Dalam struktur baru tersebut, ByteDance masih mempertahankan kepemilikan minoritas sebesar 19,9 persen. Sejumlah investor yang di ketahui memiliki afiliasi atau riwayat dukungan terhadap Partai Republik juga tercatat terlibat dalam konsorsium tersebut.
Skala gangguan teknis yang terjadi tergolong besar. Data dari situs pemantau layanan daring Downdetector mencatat lebih dari 660 ribu laporan masalah dari pengguna TikTok di Amerika Serikat dalam kurun waktu Sabtu hingga Senin.
Keluhan mencakup kegagalan unggah, penurunan jangkauan konten, hingga aplikasi yang tidak dapat terakses.
TikTok menjelaskan gangguan dipicu oleh pemadaman listrik di salah satu fasilitas pusat data Oracle, yang kemudian menyebabkan gangguan sistem secara berantai. Meski demikian, perusahaan menegaskan tidak ada kebocoran maupun kompromi terhadap data pengguna.
“Keamanan data tetap menjadi prioritas utama kami. Gangguan ini bersifat sementara dan sebagian besar hanya berdampak pada pengguna di Amerika Serikat,” ujar TikTok.
Hingga kini, pemulihan sistem masih terus mereka lakukan. TikTok berjanji akan meningkatkan stabilitas layanan sekaligus memastikan transparansi kepada publik, di tengah sorotan ketat terhadap masa depan operasional platform tersebut di AS.








