Sebanyak 467 saham terkoreksi, sementara 258 saham menguat. Nilai transaksi tercatat Rp9,89 triliun dalam satu hari perdagangan.
Jakarta (Lampost.co) — Pasar keuangan Indonesia membuka pekan dengan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan turun tipis pada perdagangan awal minggu. IHSG ditutup melemah 0,05 persen ke level 7.093,81. Namun, indeks sempat jatuh hampir 2 persen pada sesi pertama.
Sebanyak 467 saham terkoreksi, sementara 258 saham menguat. Nilai transaksi tercatat Rp9,89 triliun dalam satu hari perdagangan. Investor asing kembali melepas aset. Total dana keluar mencapai Rp686,13 miliar.
Data dari Refinitiv menunjukkan saham perbankan memberi tekanan besar. Salah satu penyumbang utama berasal dari Bank Central Asia.
Di sisi lain, beberapa saham konglomerasi membantu menahan penurunan. Kinerja itu membuat IHSG lebih stabil daripada bursa Asia lainnya.
Nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup di Rp16.985 per dolar AS.
Posisi itu mendekati level psikologis Rp17.000. Tekanan itu terlihat sejak awal sesi perdagangan.
Penguatan dolar global menjadi penyebab utama. Indeks dolar AS kembali menembus level 100. Kondisi itu terjadi karena meningkatnya ketidakpastian global. Investor memburu aset aman di tengah konflik geopolitik.
Fokus pasar tertuju pada konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah pernyataan keras Donald Trump terhadap Iran.
Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak buka. Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar energi.
Harga minyak langsung melonjak. Brent bergerak di kisaran US$114 hingga US$116 per barel.
Sementara itu, West Texas Intermediate bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan itu memperbesar risiko inflasi global.
Selat Hormuz menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Gangguan di wilayah itu berdampak besar pada pasokan global.
Pasar saham Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan. Indeks S&P 500 turun 0,39 persen. Nasdaq melemah 0,73 persen akibat tekanan sektor teknologi. Sementara Dow Jones mencatat kenaikan tipis.
Indeks volatilitas CBOE Volatility Index sempat menembus level 30. Angka itu menandakan meningkatnya kekhawatiran investor.
Di pasar obligasi, yield US Treasury 10 tahun turun ke 4,35 persen. Penurunan itu terjadi setelah pernyataan Jerome Powell.
Ketua Federal Reserve menyebut inflasi masih terkendali. Ia menegaskan kebijakan saat ini masih relevan.
Pelaku pasar menunggu rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Data JOLTS dan nonfarm payrolls akan menjadi perhatian utama.
Data itu memberikan gambaran kondisi ekonomi global. Hasilnya akan memengaruhi kebijakan suku bunga ke depan.
Dari Asia, pasar juga memantau data pengangguran Jepang. Angka itu menjadi indikator kekuatan konsumsi domestik.
Di dalam negeri, pemerintah menyiapkan langkah strategis. Kebijakan itu bertujuan merespons dampak konflik global.
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyampaikan pengumuman pada pukul 19.00 WIB. “Semua kebijakan terkait mitigasi risiko dinamika global akan diumumkan,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mencakup berbagai sektor. Isu energi, termasuk BBM, menjadi salah satu yang disorot. Langkah itu penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah ingin mengantisipasi dampak lonjakan harga energi global.
Pergerakan pasar saat itu sangat terpengaruh faktor eksternal. Konflik geopolitik dan harga energi menjadi penentu utama.
Jika ketegangan berlanjut, tekanan terhadap rupiah dan IHSG bisa meningkat. Sebaliknya, stabilitas global akan membuka peluang pemulihan.
Investor kini menunggu kepastian kebijakan dan perkembangan konflik. Kedua faktor itu akan menentukan arah pasar dalam waktu dekat.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update