
Ketika konflik kembali memanas di Timur Tengah, dunia kembali menyadari betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global terhadap guncangan geopolitik. Ketegangan yang sebelumnya antara Israel dan HAMAS di wilayah Jalur Gaza dan sekarang antara Israel, Amerika Serikat dan Iran tidak hanya menimbulkan tragedi kemanusiaan. Selain itu, situasi ini juga mengguncang sistem ekonomi dunia. Jalur perdagangan internasional di sekitar Laut Merah serta distribusi energi melalui Selat Hormuz menjadi titik sensitif yang sewaktu-waktu dapat memicu lonjakan harga minyak. Di samping itu, ada gangguan logistik dan ketidakpastian pasar keuangan global.
Bagi Indonesia, walaupun perang yang terjadi ribuan kilometer, hal itu bukanlah peristiwa yang “B Aja.”
Dalam ekonomi global yang semakin terhubung, gejolak geopolitik di Timur Tengah dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi domestik: mulai dari kenaikan harga energi, tekanan inflasi barang/pangan, hingga volatilitas nilai tukar.
Ancaman Lonjakan Harga Minyak
Salah satu dampak paling langsung dari konflik Timur Tengah adalah lonjakan harga energi dunia. Pasar minyak global sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik di kawasan penghasil energi utama. Ketika konflik meningkat, harga minyak mentah dunia sering melonjak karena kekhawatiran terganggunya pasokan.
Dalam beberapa krisis geopolitik, harga minyak jenis Brent pernah melonjak hingga berada di kisaran 80–100 dolar AS per barel. Saat artikel ini disusun (5 Maret 2026) Brent telah melonjak tajam dari US$72,48 per barel pada 27 Februari menjadi US$83,49 per barel. Lonjakan harga energi semacam ini dapat memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi. Akibatnya memperlebar defisit fiskal.
Menghadapi kondisi di atas, terkait masalah energi Presiden Prabowo Subianto telah memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia untuk membahas langkah antisipasi ketahanan energi menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah memastikan stok bahan bakar minyak nasional masih aman sekitar 20 hari ke depan. Selain itu Menteri Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah tetap dapat diantisipasi oleh pemerintah. Kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menanggung dampaknya. Menurutnya, meskipun harga minyak global telah naik di atas asumsi APBN sekitar US$70 per barel—anggaran negara masih mampu dikendalikan bahkan jika harga minyak mencapai sekitar US$92 per barel. Pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Apapun “omon-omon” pemerintah terkait dampak konflik geopolitik, dalam jangka panjang ketahanan energi menjadi isu strategis. Upaya diversifikasi energi dan pengembangan biofuel yang dilakukan oleh pemerintah merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi pasar minyak dunia.
Ketahanan Pangan dan Stabilitas Keuangan
Selain energi, konflik geopolitik juga dapat memicu gangguan pada perdagangan pangan global. Jalur distribusi logistik internasional yang terganggu berpotensi menaikkan harga berbagai komoditas barang /pangan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan negara menjaga pasokan barang/pangan domestik menjadi faktor kunci stabilitas sosial dan ekonomi. Di Indonesia, peran stabilisasi stok oleh Perum Bulog serta penguatan kebijakan pangan oleh Badan Pangan Nasional sangat penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi. Namun, hal ini juga berkaitan dengan kemampuan negara mengelola distribusi dan cadangan strategis.
Gejolak geopolitik juga sering memicu volatilitas di pasar keuangan global. Fluktuasi nilai tukar, arus modal keluar, dan ketidakpastian investasi menjadi tantangan yang harus dihadapi negara berkembang. Dalam situasi seperti ini koordinasi kebijakan antara
Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz pernah mengingatkan bahwa krisis global sering kali memperlihatkan ketahanan sebenarnya dari sebuah sistem ekonomi. Negara yang memiliki fondasi ekonomi kuat, tata kelola baik, dan kebijakan adaptif biasanya mampu keluar dari krisis dengan posisi yang justru lebih kuat.
Momentum Transformasi dan Peluang untuk Ketahanan Ekonomi
Indonesia perlu belajar ketahanan ekonomi dari Rusia. Setelah pecahnya perang dengan Ukraina, Rusia telah menunjukkan bahwa perang dan sanksi internasional tidak melumpuhkannya. Meski diboikot oleh banyak negara Barat, asetnya dibekukan dan sebagian aksesnya ke sistem keuangan global seperti SWIFT dibatasi, Rusia mampu beradaptasi dengan mengalihkan ekspor energi ke pasar baru seperti China dan India. Selain itu, Rusia memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan. Rusia juga menjaga stabilitas finansial melalui kebijakan ketat dari bank sentral Rusia. Kombinasi sumber daya energi yang besar, diversifikasi mitra dagang, dan intervensi negara yang kuat membuat ekonomi Rusia tetap bertahan. Bahkan, ekonomi Rusia menunjukkan pemulihan dalam beberapa tahun perang, sebagaimana dicatat oleh International Monetary Fund (IMF).
Selain bertahan di kondisi perang seperti Rusia, sejarah juga menunjukkan bahwa krisis tidak sepenuhnya membawa kerugian. Dalam tradisi kebijaksanaan Arab ada pepatah: “muṣībatu qawmin ‘inda qawmin fawāʾidu” yang berarti musibah bagi suatu kaum dapat menjadi manfaat bagi kaum yang lain. Pepatah ini menggambarkan realitas ekonomi global: krisis di satu tempat sering kali membuka peluang peluang bagi negara yang bermain “ciamik.” Sebagai contoh, dalam dinamika Perang Dunia Ke-2, terdapat beberapa negara tidak terlibat langsung dalam pertempuran dan justru memperoleh keuntungan dari situasi tersebut.
Status Netral
Salah satu contohnya adalah Swiss yang mempertahankan status netral selama perang. Swiss juga menjadi pusat keuangan serta perdagangan emas di tengah kekacauan Eropa.
Selain Swiss, Swedia yang tetap netral dan memperoleh keuntungan dari ekspor bijih besi dan produk industri kepada negara-negara yang terlibat perang. Di kawasan lain, Argentina juga mendapatkan manfaat ekonomi karena meningkatnya permintaan global terhadap komoditas pertanian dan daging selama perang. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa dalam konflik global, negara yang mampu menjaga stabilitas domestik dan memanfaatkan posisi netralnya memperoleh “cuan” dari meningkatnya permintaan pasar. Selain itu, mereka juga memperoleh manfaat dari perubahan pola perdagangan internasional.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar ekonomi Indonesia terletak pada pasar domestiknya yang luas. Dengan populasi besar dan kelas menengah yang terus tumbuh, konsumsi domestik dapat menjadi penopang pertumbuhan ketika ekonomi global melambat. Penguatan UMKM, ekonomi digital, serta investasi infrastruktur menjadi langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan beradaptasi menjadi kunci keunggulan suatu negara. Ketika Timur Tengah terbakar, pertanyaan sesungguhnya bukan sekadar seberapa besar dampaknya bagi Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah seberapa “lihai” bangsa ini mengubah guncangan menjadi pijakan bagi lompatan ekonomi dengan membangun “Model Ketahanan Ekonomi” menghadapi kondisi geopolitik yang serba dinamis.








