• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Sabtu, 14/03/2026 04:08
Jendela Informasi Lampung
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Jendela Informasi Lampung
Home Opini

Ulama Banten, Islamisasi Lampung

Salah satu daerah yang memiliki sejarah Islamisasi menarik adalah Lampung, yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatra

MustaanbyMustaan
25/03/25 - 06:43
in Opini
A A
islamisasi

Ilustrasi (lampost.co)

ADVERTISEMENT
islamisasi
Agus Mahfudin Setiawan
Sejarawan UIN Raden Intan Lampung

PENYEBARAN Islam di Nusantara merupakan proses panjang yang penuh dengan dinamika sosial, budaya, dan politik. Salah satu daerah yang memiliki sejarah Islamisasi menarik adalah Lampung, yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatra. Masuknya Islam ke Lampung tidak terlepas dari peranan ulama yang menyebarkan dakwah Islam dengan penuh kearifan, serta mampu mengakomodasi adat istiadat lokal yang telah mengakar dalam masyarakat.

Di antara para penyebar Islam itu, ulama-ulama dari Banten memegang peranan penting dalam proses Islamisasi yang tidak hanya berfokus pada pengajaran agama, tetapi juga mengembangkan harmoni antara ajaran Islam dan budaya Lampung. Walau bukti-bukti tertulis dan arkeologis mengenai siapa dan kapan tepatnya Islam masuk ke Lampung masih samar dan sulit dilacak, keberadaan makam-makam ulama dari Banten di Lampung menjadi bukti otentik tentang peran mereka dalam menyemai Islam di bumi Sang Bumi Ruwa Jurai. 

Proses penyebaran Islam di Lampung bukanlah proses instan atau dipaksakan. Melainkan berlangsung secara bertahap melalui dakwah yang mengedepankan nilai-nilai kultural dan spiritual.

Salah satu tokoh utama dalam proses ini adalah Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sultan Hasanuddin sekaligus pendiri Kesultanan Banten abad ke-16.   Menurut beberapa tradisi lisan dan manuskrip kuno, Sunan Gunung Jati pada sekitar tahun 1525 M melakukan ekspedisi dakwah ke wilayah Lampung. Hubungan politik dan dagang antara Banten dan Lampung menjadi pintu masuk yang efektif untuk memperkenalkan Islam.

Perdagangan lada yang menjadi komoditas utama Lampung telah mempererat hubungan kedua wilayah ini, menjadikan dakwah Islam sebagai bagian dari interaksi sosial-ekonomi yang saling menguntungkan (baca juga, lamppost 18/03/25). Keberhasilan Sunan Gunung Jati dan para penerusnya dalam menyebarkan Islam tidak hanya pada aspek pengajaran agama, tetapi juga pada pembentukan identitas keislaman yang bersanding harmonis dengan nilai-nilai adat Lampung.

Pada awal abad XVIII, Tubagus Mahdum, seorang ulama dari Banten yang memiliki garis keturunan Sultan Hasanuddin, aktif menyebarkan Islam di daerah Teluk Betung.

Dalam dakwahnya, Tubagus Mahdum menekankan pentingnya amalan Alquran, terutama surat Yasin sebagai bagian dari ritual keagamaan masyarakat. Beliau dikenal sebagai pengembara yang menempuh berbagai wilayah dalam upaya menyebarkan Islam. Namun, nasib tragis menimpa Tubagus Mahdum, beliau dibunuh oleh penjahat di pesisir Teluk Betung pada akhir abad XVIII. Makamnya yang berada di Kuala, Teluk Betung Selatan, kini menjadi saksi bisu perjuangannya.

Kompleks makam yang menyerupai rumah ini juga menyimpan peninggalan-peninggalan beliau, dan hingga kini tetap dirawat sebagai situs sejarah dan spiritual masyarakat sekitar (Febriadi, Maskun, & Wakidi, 2019). Sosok Tubagus Mahdum mencerminkan bagaimana ulama Banten berjuang menyebarkan Islam dengan menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat, tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang telah lama hidup di tengah mereka.

Warisan dakwah ulama Banten berlanjut pada abad XX, salah satunya melalui sosok Tubagus Yahya.

Seperti pendahulunya, Tubagus Yahya juga berasal dari Banten dan merupakan keturunan Sultan Hasanuddin. Beliau berdakwah di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung, dan dikenal dengan metode dakwah melalui pengajian yang menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Tubagus Yahya meninggal pada tahun 1930 akibat sakit, dan dimakamkan di Jln. Banten, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Teluk Betung Barat. Sampai saat ini, makam beliau ramai dikunjungi oleh peziarah, tidak hanya dari Lampung. Tetapi juga dari Banten, Cianjur, Indramayu, bahkan Kalimantan. Momentum ziarah yang meningkat menjelang Ramadhan menunjukkan bahwa Tubagus Yahya bukan hanya dihormati sebagai ulama. Tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai spiritual masyarakat. 

Selain tokoh-tokoh tersebut, tercatat nama-nama ulama Banten lain yang turut memberikan kontribusi dalam Islamisasi Lampung. Seperti Syeikh Maulana Alim al-Madinah (1700), Tubagus Ali Fakih, Tubagus Sangkrah, Wali Samin bin Muhammad, dan Syeikh Nambihi. Masing-masing dari mereka memiliki peran tersendiri dalam menanamkan ajaran Islam di berbagai wilayah Lampung. Uniknya, dakwah mereka tidak pernah bertentangan dengan adat dan budaya lokal. Justru, mereka mengangkat nilai-nilai luhur adat sebagai instrumen dakwah yang memperkuat penerimaan Islam.

Dengan demikian, penyebaran Islam di Lampung tidak bersifat konfrontatif, tetapi dialogis dan inklusif.

Penting juga menjadi catatan bahwa Islamisasi Lampung tidak hanya oleh ulama dari luar. Tetapi juga oleh tokoh lokal seperti Minak Kemala Bumi atau juga Minak Pati Pejurit. Minak Kemala Bumi adalah putra dari raja Kerajaan Tulang Bawang, Tuan Rio Mangku Bumi. Pada tahun 1554, ia mendapat undangan Sultan Banten untuk belajar Islam dan akhirnya memeluk Islam dengan nama Haji Pejurit Hidayatullah. Ia kemudian menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah, sebelum kembali ke Lampung untuk mengajarkan ajaran Islam kepada rakyatnya(Akip, 1980).

Perjalanan spiritual Minak Kemala Bumi mencerminkan integrasi antara kekuasaan lokal dan otoritas keagamaan. Sekaligus menunjukkan keberhasilan dakwah Islam dalam merangkul tokoh-tokoh adat (Muhtarom, 2018). Transformasi Minak Kemala Bumi dari seorang bangsawan menjadi ulama lokal memperkuat legitimasi Islam. Yakni sebagai agama yang selaras dengan nilai-nilai masyarakat Lampung.

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa proses Islamisasi Lampung tidak bisa lepas dari peran ulama Banten. Mereka dengan sabar dan bijak menanamkan ajaran Islam di tengah masyarakat yang memiliki tradisi dan adat yang kuat. Mereka tidak datang untuk mengubah budaya, tetapi untuk membimbingnya agar sejalan dengan nilai-nilai Islam. Kearifan dalam dakwah ini menjadi kunci keberhasilan Islam mengena di hati oleh masyarakat Lampung hingga saat ini.

Meskipun masih sulit untuk menemukan data pasti mengenai waktu dan tokoh pertama yang membawa Islam ke Lampung, keberadaan makam dan tradisi dakwah ulama Banten menjadi bukti konkret jejak Islamisasi tersebut.

Ke depan, warisan dakwah ini perlu terus digali dan dikaji secara akademis. Agar menjadi rujukan bagi pengembangan dakwah yang lebih kontekstual di era kini. Di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, pendekatan kultural yang telah dilakukan oleh ulama Banten dalam dakwahnya menjadi inspirasi. Terutama untuk membangun masyarakat Islam yang inklusif dan berakar pada budaya lokal.

Kearifan mereka dalam merangkul budaya adalah teladan yang layak berwaris. Bahwa Islam tidak datang untuk menghapus jati diri suatu masyarakat, melainkan untuk menyempurnakannya. Inilah pelajaran berharga dari jejak ulama Banten di bumi Lampung.

Tags: BantenesaiislamisasikolomLAMPUNGOpiniramadantulianUlama
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Akademisi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Devi Yulianti. Dok UNILA

Menertibkan Penyalahgunaan Distribusi Barang Subsidi

byTriyadi Isworo
07/03/2026

MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, kebutuhan bahan pokok hampir selalu menjadi perhatian utama masyarakat. Apalagi barang bersubsidi. Dari tahun ke...

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Lampung, Khairunnisa Simbolon, S.IP., M.A. Dok UNILA

Mediasi Iran-AS oleh Prabowo: Seberapa Realistis?

byTriyadi Isworo
07/03/2026

WACANA mengenai keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk memediasi konflik yang tengah terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Ini tersampaikan oleh...

Ketika Timur Tengah Terbakar, Bagaimana Model Ketahanan Ekonomi Indonesia? 

Ketika Timur Tengah Terbakar, Bagaimana Model Ketahanan Ekonomi Indonesia? 

byMustaan
05/03/2026

Hasan Ashari (Mahasiswa Program Doktor Perbanas Institute) Ketika konflik kembali memanas di Timur Tengah, dunia kembali menyadari betapa rapuhnya stabilitas...

Berita Terbaru

kar Hotel & Resort Lampung menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama Karyawan dan Anak Yatim Piatu dengan mengusung tema “Ramadan Penuh Berkah, Bersama Berbagi Kebahagiaan.”
Advertorial

Ramadan Penuh Berkah, Akar Hotel & Resort Lampung Gelar Buka Puasa Bersama Karyawan dan Anak Yatim Piatu

byNur
13/03/2026

Bandar Lampung (Lampost.co)---- Dalam semangat kebersamaan dan kepedulian di bulan suci Ramadan, Akar Hotel & Resort Lampung menggelar kegiatan Buka...

Read moreDetails
bologna vs as roma

Bologna dan AS Roma Berbagi Angka di Leg Pertama 16 Besar Liga Europa 2026

13/03/2026
Pemerintah terus memastikan seluruh simpul transportasi nasional berada dalam kondisi siap melayani mobilitas masyarakat yang diprediksi meningkat signifikan pada angkutan Lebaran 2026.Dok/Lampost.co

Pemerintah Pastikan Lintasan Pelabuhan Merak–Pelabuhan Bakauheni Siap Hadapi Arus Mudik

13/03/2026
Siaga Ramadan dan Lebaran 2026, Mitsubishi Fuso Jamin Operasional Konsumen Lewat “Fuso Berkah Ramadhan”

Siaga Ramadan dan Lebaran 2026, Mitsubishi Fuso Jamin Operasional Konsumen Lewat “Fuso Berkah Ramadhan”

13/03/2026
ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan menyiapkan sebanyak 57 kapal pada angkutan arus mudik dan balik Lebaran tahun 2026. Dok/Lampost.co

ASDP Siapkan 57 Kapal pada Angkutan Mudik dan Balik Lebaran Tahun Ini

13/03/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.