Jalan Rusak, Bukan Hanya Persoalan Infrastruktur

Pembahasan mengenai jalan rusak telah menjadi sebuah persoalan yang identik dengan Lampung dan tak kunjung terselesaikan hingga saat ini

Editor Mustaan
Kamis, 14 Mei 2026 15.06 WIB
Jalan Rusak, Bukan Hanya Persoalan Infrastruktur
Oleh: Adzra Afifah Amanatullah Aktivis Pembangunan Daerah dan Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung

Pembahasan mengenai jalan rusak telah menjadi sebuah persoalan yang identik dengan Lampung dan tak kunjung terselesaikan hingga saat ini. Bagi sebagian masyarakat, melintasi jalan rusak sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Jalan yang berlubang, penuh genangan air, berlumpur hingga sulit untuk melintas sudah menjadi suatu hal yang lumrah. Keluhan masyarakat akan hal ini terus bermunculan karena sebagai penghambat aktivitas warga sehari-hari.

“Yang pasti ada rasa kecewa karena lambat perbaikan jalan. Selain tidak nyaman, kondisi ini juga sering menyebabkan kecelakaan, terutama bagi kendaraan roda dua,” ungkap salah satu warga.

Jalan rusak bukanlah persoalan yang baru. Di beberapa wilayah, masyarakat sudah lama menghadapi kondisi infrastruktur yang tidak memadai. Persoalan ini kembali ramai ketika banyak warga yang menyuarakan keluhannya di media sosial. Berbagai unggahan menunjukkan jalan di daerah mereka sebagai bentuk kritik dan tuntutan perbaikan. Oleh karena itu, jalan rusak tidak hanya dapat dipandang sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga berdampak terhadap kenyamanan dan kondisi psikologis masyarakat.

Jalan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Hampir seluruh aktivitas bergantung pada akses jalan, seperti pergi bekerja, berangkat ke sekolah, hingga aktivitas sosial lainnya. Namun, ketika akses jalan tersebut rusak, aktivitas masyarakat menjadi terhambat secara langsung. Pengendara harus lebih berhati-hati, mengurangi kecepatan, bahkan mencari jalur alternatif.

Risiko Kecelakaan

Kondisi jalan rusak meningkatkan risiko kecelakaan. Lubang-lubang yang tertutup genangan air membuat pengendara kesulitan memperkirakan kondisi jalan. Dalam beberapa kasus, kendaraan mengalami kesulitan saat melewati jalan rusak tersebut hingga menyebabkan kemacetan dan tak sedikit kendaraan yang tersangkut di tengah jalan. Selain itu, kondisi ini dapat memperkuat pandangan masyarakat bahwa persoalan jalan rusak baru mendapat perhatian ketika hal ini viral atau adanya kunjungan dari pejabat yang menimbulkan kekecewaan masyarakat terhadap lambatnya penanganan.

Persoalan jalan rusak tidak hanya dapat dipandang sebagai masalah fisik dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dapat memengaruhi emosi dan kenyamanan masyarakat. Kondisi yang berlangsung lama tanpa adanya perubahan yang nyata seperti ini juga dapat memunculkan tekanan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Saat hujan turun, lubang-lubang jalan penuh genangan air sehingga masyarakat merasa khawatir ketika melintas. Sebaliknya, ketika cuaca panas, debu dari jalan yang rusak juga dapat mengganggu kenyamanan selama perjalanan. Perasaan cemas atau khawatir saat berkendara, ketidaknyamanan dalam perjalanan, hingga rasa lelah akibat kondisi jalan yang buruk perlahan menjadi sumber stres bagi masyarakat.

Dari kondisi ini dapat membentuk environmental stress atau stres lingkungan, yaitu tekanan psikologis akibat lingkungan yang tidak nyaman dan terjadi secara terus-menerus. Dalam kasus jalan rusak, tekanan tersebut muncul dari rasa takut akan mengalami kecelakaan, perjalanan yang terasa lebih melelahkan, hingga ketidaknyamanan yang terus terasakan. Hal ini terlihat sederhana, namun tekanan kecil yang terus berulang setiap harinya dapat memengaruhi suasana hati dan emosional masyarakat.

Selain itu, kondisi ini juga dapat memunculkan learned helplessness, yaitu keadaan ketika seseorang merasa pasrah atau tidak berdaya untuk mengubah situasi yang buruk. Jalan rusak yang terus berlangsung dalam jangka waktu panjang dapat membuat masyarakat cenderung pasrah terhadap situasi tersebut. Mereka merasa usahanya tidak akan membawa perubahan sehingga memilih untuk menerima keadaan tersebut. Warga perlahan menjadi terbiasa dengan keadaan jalan yang buruk, meskipun tetap mengganggu aktivitas. Banyak masyarakat yang mengeluh, namun di saat yang sama merasa bahwa tidak akan banyak perubahan yang terjadi.

Kenyamanan

Persoalan jalan rusak menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal masyarakat berpengaruh langsung terhadap kenyamanan dan kondisi psikologis mereka. Selama ini, jalan rusak menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat Lampung karena terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Padahal, ketika masalah ini terus berkelanjutan justru dampaknya akan terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah dan masyarakat harus mampu mengarahkan penanganan masalah ini secara bersama. Pemerintah dituntut untuk bertindak tegas dalam perbaikan infrastruktur, sementara masyarakat pun harus berperan aktif dalam mendukung serta mengawasi proses tersebut.

Jalan yang layak bukan hanya soal mempermudah mobilitas, tetapi juga untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Karena itu, perbaikan jalan tidak boleh terus ditunda dan harus dipandang sebagai prioritas, bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Adaptasi masyarakat terhadap kondisi jalan yang buruk tidak dapat terus dinormalisasikan. Pemerintah harus memastikan perbaikan dilakukan secara nyata dan merata karena lingkungan yang nyaman tetap menjadi kebutuhan penting masyarakat untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, perbaikan jalan harus dilakukan secara serius, terarah, dan berkelanjutan demi menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung kesejahteraan masyarakat baik secara fisik maupun psikologis.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI