Jakarta (Lampost.co): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menemukan kesalahan input data dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Banyak sekolah tidak melaporkan kondisi ruang kelas sesuai keadaan sebenarnya.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menyatakan sekolah bisa saja sengaja melakukan kesalahan input data. Sekolah ingin memperoleh nilai akreditasi yang baik melalui laporan Dapodik.
“Sekolah menganggap kondisi yang rusak sebagai bagus karena mereka takut akreditasi menurun jika menuliskan kondisi rusak,” ujar Suharti dalam Rapat Koordinasi Data dan Teknologi di Grand Sahid Hotel, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Suharti juga menyampaikan bahwa sejumlah sekolah justru melakukan praktik sebaliknya. Sekolah melaporkan kondisi kelas sebagai rusak di Dapodik meskipun kondisi sebenarnya masih baik.
“Pada waktu yang sama, ada sekolah yang sebenarnya memiliki kelas bagus tetapi menuliskannya rusak supaya mereka mendapat renovasi,” katanya.
Suharti mengingatkan sekolah agar melaporkan kondisi nyata dalam Dapodik. Data yang akurat memegang peran penting dalam pengembangan pendidikan.
“Semua pihak harus memastikan data sesuai dengan kondisi lapangan, baik petugas yang menginput maupun pihak yang memvalidasi,” tegasnya.
Kemendikdasmen merencanakan langkah penjaminan mutu data pendidikan. Kementerian tersebut akan memperkuat pemanfaatan teknologi melalui Rumah Pendidikan.
“Rumah Pendidikan menjadi fondasi ekosistem digital pembelajaran yang gratis tanpa iuran bulanan, inklusif, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Suharti menegaskan bahwa data pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai arsip. Pemerintah dapat memanfaatkan data tersebut sebagai dasar perumusan kebijakan.
“Kita perlu memanfaatkan data bersama-sama. Sekolah sudah menginput data, tetapi jika semua pihak membiarkannya tanpa pemanfaatan, kebijakan bisa melenceng,” ujar Suharti.








