Bandar Lampung (Lampost.co): Sistem pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia membutuhkan perubahan mendasar karena sistem yang berjalan saat ini gagal menumbuhkan motivasi belajar siswa. Kegagalan itu muncul secara nyata dalam praktik pembelajaran di kelas, ketika siswa justru tidak mengharapkan kehadiran guru bahasa Inggris.
Guru Besar FKIP Universitas Lampung, Prof. Bambang Setiyadi, menegaskan perlunya perombakan sistem tersebut saat peringatan Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung di Gedung Aula K FKIP Unila, Kamis (29/1). Ia menilai sistem pembelajaran bahasa Inggris selama ini terlalu memusatkan perhatian pada aktivitas mengajar, sementara sistem tersebut mengabaikan fungsi utama pendidikan, yaitu membangun motivasi belajar siswa.
Menurut Prof. Bambang, persoalan pembelajaran bahasa Inggris tidak bersumber dari kekurangan metode, kurikulum, maupun rencana pengembangan sekolah. Ia justru menyoroti sistem pendidikan yang mendorong guru sibuk mengajar, menyusun metode, dan mengejar target kurikulum tanpa kemampuan membangkitkan keinginan siswa untuk belajar.
“Guru sibuk mengajar, sibuk metode, sibuk rencana, tetapi tidak mampu memotivasi siswa untuk belajar. Kalau begitu, untuk apa?” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut sebagai kegagalan sistemik karena proses pembelajaran justru menjauhkan siswa dari minat belajar. Dalam banyak situasi, siswa bahkan menyambut ketidakhadiran guru bahasa Inggris dengan rasa senang. Hal itu sebuah tanda serius bahwa sistem pembelajaran tidak berjalan sehat.
“Kedatangan guru tidak siswa harapkan, dan ketidakhadirannya membahagiakan. Ini mengerikan,” tegasnya.
Prof. Bambang menekankan bahwa perubahan sistem harus menggeser orientasi pendidikan bahasa Inggris dari sekadar aktivitas mengajar menuju proses belajar siswa. Ia menilai berbagai metode dan pendekatan pembelajaran tidak akan bermakna selama guru gagal membangun motivasi belajar.
“Belajar bahasa Inggris hanya akan terjadi jika siswa mau belajar. Siswa mau belajar jika guru mampu memotivasi,” katanya.
Kurikulum
Sebagai langkah konkret, Prof. Bambang mendorong penyusunan kurikulum dan buku teks yang berorientasi pada motivasi pembelajar EFL di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran berbasis kebutuhan komunikasi global serta sistem evaluasi yang selaras dengan fungsi bahasa Inggris sebagai lingua franca, bukan sekadar meniru standar penutur asli.
“Tanpa perubahan sistemik, kita hanya akan terus sibuk mengajar tanpa pernah benar-benar membuat siswa belajar,” pungkasnya.








