Bandar Lampung (Lampost.co) — Jumlah pendaftar program magang (pemagangan) nasional Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menembus lebih dari 150 ribu orang. Jumlah tersebut menjadi bukti tingginya antusiasme para lulusan baru atau fresh graduate untuk meniti karier.
Meski begitu, program itu masih perlu penguatan sistem agar tidak hanya ramai peminat. Namun, juga berdampak nyata pada peningkatan kompetensi dan penyerapan tenaga kerja.
Salah satu lulusan perguruan tinggi negeri, Amalia (23), menilai butuh kematangan sistem dalam program itu agar output-nya maksimal.
Antusiasme para pendaftar yang tinggi, dia berharap penambahan kuota di gelombang selanjutnya sebaiknya bisa bertahap. Sehingga, kualitas pelaksanaan program tetap terjaga. Sebab, program yang terlalu besar tanpa kesiapan sistem justru berisiko menurunkan mutu kompetensi.
“Kalau kuota langsung bertambah tanpa sistem yang kuat, nanti malah berantakan. Mending 20 ribu orang dulu yang benar-benar dapat pengalaman berkualitas. Setelah evaluasi, pikirkan penambahan kuota buat angkatan berikutnya,” ujarnya, Senin, 20 Oktober 2025.
Dia menambahkan, lonjakan pendaftar mengindikasikan sejumlah persoalan penting. Di antaranya masih terbatasnya lapangan kerja yang layak, sulitnya akses bagi lulusan baru, dan belum terpadunya dunia pendidikan dengan dunia industri.
“Program ini jangan cuma jadi solusi cepat, tapi juga langkah buat menyambungkan dunia kampus dan dunia kerja,” kata dia.
Amalia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah. Menurutnya, kualitas program bergantung pada keseriusan perusahaan dalam mendampingi peserta dan menyediakan pembelajaran yang relevan.
“Kalau magang cuma formalitas, hasilnya nggak akan terasa. Tapi, kalau benar-benar berjalan buat belajar bareng, bisa banget jadi impactful,” ujarnya.
Ia berharap setiap peserta magang memiliki pendamping dan rencana belajar yang jelas. Selain itu, perlu ada jalur rekrutmen bagi peserta berprestasi agar pengalaman magang tidak berakhir tanpa tindak lanjut.
“Minimal 5–10 persen peserta terbaik harus punya jalur cepat buat terekrut. Kalaupun nggak lanjut, perusahaan tetap bisa bantu lewat surat rekomendasi, jaringan alumni, atau hubungkan ke perusahaan mitra,” jelasnya.
Menambah Pengalaman Kerja
Sementara itu, Dwi (22), menilai program itu cukup baik dan memberikan kesempatan berharga bagi lulusan baru untuk menambah pengalaman kerja. Durasi pelaksanaan yang panjang memberi waktu cukup untuk belajar langsung di dunia kerja.
“Program ini sangat membantu, apalagi untuk fresh graduate. Durasi cukup panjang, Oktober 2025 sampai April 2026, peserta bisa dapat pengalaman nyata,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya minat pendaftar menunjukkan perlunya penambahan kuota untuk gelombang berikutnya. Namun, ia juga berharap pemerintah dan perusahaan penyelenggara membuka peluang kerja bagi peserta setelah program berakhir.
“Setelah program ini selesai, sebaiknya ada peluang bagi peserta magang untuk menjadi tenaga kerja di tempat magang. Itu akan sangat membantu mengurangi pengangguran,” kata dia.
Baginya pengalaman magang bukan sekadar tentang bekerja, tetapi tentang membuka jalan bagi masa depan. “Kesempatan pertama itu penting banget. Dari situ, semangat belajar bisa berubah jadi pengalaman dan pengalaman bisa jadi masa depan,” kata dia.








