Belem (Lampost.co) — Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres kembali mendesak negara-negara bergerak cepat menghadapi krisis iklim global yang memburuk. Seruan keras itu ia sampaikan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 atau COP30 Brasil di Kota Belem, Amazon, Kamis, 20 November 2025.
Poin Penting:
-
PBB mendesak kesepakatan adil di COP30 Brasil.
-
Sekjen PBB ingin aksi cepat menghadapi krisis iklim global.
-
Negara maju wajib pimpin transisi energi dan pendanaan iklim.
Konferensi iklim terbesar dunia itu memasuki tahap akhir negosiasi. Karena itu, Guterres menekankan pentingnya kesepakatan iklim yang adil, cepat, dan seimbang demi keselamatan jutaan orang yang kian rentan.
Menurut Guterres, krisis iklim global kini menekan berbagai negara, terutama wilayah yang menghadapi banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan kenaikan permukaan laut. Karena itu, ia meminta seluruh delegasi menuntaskan negosiasi tanpa menunda.
Baca juga:
“Kelompok rentan tidak bisa menunggu lagi. Mereka membutuhkan tindakan nyata,” kata Guterres.
Sekjen PBB juga menilai kemajuan sejak Perjanjian Paris 2015 belum cukup mengurangi dampak perubahan iklim global.
Desakan Penurunan Emisi secara Drastis
Lebih jauh, Guterres meminta negara-negara mencapai puncak emisi secepat mungkin. Ia menekankan penurunan emisi harus mencapai setengahnya pada dekade ini, lalu menuju net-zero pada 2050 dan net-negative setelah itu.
Karena itu, Sekjen PBB kembali menyoroti kewajiban negara maju memimpin transisi energi bersih dan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Seruan tersebut mengikuti kesepakatan COP28 Dubai yang menegaskan perlunya transisi yang adil, tertib, dan setara.
Perlindungan Hutan Amazon
Selain itu, Sekjen PBB menyoroti urgensi perlindungan ekosistem. Menurutnya, harus menghentikan penggundulan hutan global dan membaliknya sebelum 2030. Langkah itu penting agar alam tetap menjadi pelindung dan bukan korban dari krisis iklim.
Amazon, yang menjadi lokasi COP30 Brasil, menjadi simbol penting pertarungan dunia melawan krisis iklim.
Tingkatkan Pendanaan Iklim
Sekjen PBB juga menegaskan solusi iklim tidak akan berjalan tanpa pendanaan besar dan berkelanjutan. Karena itu, negara maju harus mengamankan setidaknya 300 miliar dolar AS per tahun hingga 2035 untuk pendanaan iklim global.
Selanjutnya, pendanaan harus meningkat hingga 1,3 triliun dolar AS per tahun. Ia menekankan sistem keuangan global mampu membuka ruang pendanaan besar jika ada reformasi.
“Bank pembangunan multilateral harus memainkan peran menentukan,” ujarnya.
Guterres juga mengingatkan banyak negara ingin bertindak, namun terhambat biaya tinggi transisi energi dan teknologi. Karena itu, ia meminta negara kaya menunjukkan tanggung jawab historis atas emisi yang mereka hasilkan.
Iktikad Politik Menjadi Masalah Utama
Meski berbagai strategi iklim telah tersedia, Sekjen PBB menyebut hambatan terbesar tetap sama: iktikad politik. Ia menilai banyak negara menunjukkan komitmen di forum internasional, tetapi kebijakan domestik tidak sejalan.
“Kita tahu apa yang harus dilakukan. Yang kurang adalah kemauan politik,” katanya.
Dengan waktu negosiasi yang semakin sempit, Guterres meminta COP30 menghasilkan keputusan berani dan mampu mengubah arah krisis iklim. Ia berharap konferensi ini mencetak terobosan besar yang dapat mempresentasikannya pada peringatan 10 tahun Perjanjian Paris.








