Jakarta (Lampost.co): Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah untuk memperkuat peran ayah dalam pengambilan rapor di sekolah. Ia menyampaikan bahwa sekitar 25 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah atau mengalami kondisi fatherless.
Wihaji menegaskan bahwa keterlibatan langsung ayah membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh. Ia menyampaikan pernyataan tersebut saat meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengambil Rapor di SDN Pondok Bambu 11, Jakarta, Jumat (19/12).
Gerakan Ayah Mengambil Rapor menghadirkan peran ayah di lingkungan sekolah. Wihaji menilai banyak ayah lebih fokus pada gawai daripada berinteraksi dengan anak. Pada sisi lain, banyak anak menghabiskan waktu lebih lama dengan ponsel pintar ketimbang bersama ayah. Menurutnya, kondisi ini memicu krisis hubungan antara ayah dan anak. Karena itu, Wihaji meminta para ayah meluangkan waktu setidaknya dua kali setahun untuk datang ke sekolah dan mengambil rapor anak.
Wihaji juga menyoroti kesulitan orang tua dalam menasihati anak. Ia menilai ayah jarang mengajak anak berbincang sehingga anak lebih asyik berinteraksi dengan telepon genggamnya.
Terkait dengan itu, psikolog anak Elizabeth Santosa menyatakan, ketidakhadiran sosok ayah atau father figure dalam kehidupan anak dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius hingga dewasa.
Dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi relasi sosial, identitas diri, hingga pola hubungan dalam rumah tangga.
“Kalau seseorang tidak memiliki father figure atau ada absen peran ayah dalam hidupnya, biasanya ada psychological impact,” ujar Elizabeth , Jumat (19/12).
Ia menjelaskan, dampak yang paling umum muncul adalah rendahnya harga diri dan perasaan tidak bernilai. “Misalnya, harga diri rendah, merasa tidak bernilai,” katanya.
Selain itu, absennya peran ayah juga kerap memicu gangguan kecemasan dan depresi. Anak yang tumbuh tanpa figur ayah mengalami tantangan besar dalam pencarian jati diri. “Bisa juga ada gangguan kecemasan, bisa juga gangguan depresi, bisa juga ada kesulitan atau struggle dalam pencarian jati diri,” jelasnya.








