Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pengoperasian 101 titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) pada 2026 jadi peluang investasi.
Poin penting :
1. Penambahan SPKLU jadi target Pemerintah Provinsi Lampung.
2. BUMD akan dimanfaatkan untuk bekerjasama dalam pembangunan SPKLU.
3. Akan ada pemasukan (PAD) ke Provinsi Lampung dengan hadirnya taksi listrik.
Target tersebut sejalan dengan upaya percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik, seiring mulai masuknya operator taksi listrik swasta ke Lampung.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana mengatakan jumlah SPKLU yang tersedia saat ini masih belum memenuhi target yang ditetapkan pemerintah daerah.
Hingga awal 2026, SPKLU yang telah beroperasi baru mencapai 44 titik. Fasilitas tersebut terdiri atas 40 unit yang dikelola PLN dan empat unit milik pihak swasta.
“Target kita tahun 2026 ada 101 titik SPKLU. Artinya, masih ada ruang besar untuk pengembangan,” ujar Levi.
Baca juga : Banjir Mobil Listrik Impor Ancam Industri Otomotif Lokal, PHK Bayangi Pekerja
Ia menjelaskan, kondisi tersebut justru membuka peluang investasi yang cukup besar, baik bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) maupun sektor swasta.
Menurutnya, pengembangan SPKLU masih sangat terbuka untuk berjalan bersama.
Ia menyebutkan, pengadaan dan pengelolaan SPKLU dapat melalui berbagai skema kerja sama. Kolaborasi dapat berjalin antar-BUMD maupun dengan investor swasta yang tertarik mengembangkan infrastruktur kendaraan listrik.
“Peluangnya masih sangat terbuka. BUMD bisa ikut terlibat, atau berkolaborasi dengan pihak swasta untuk membuka SPKLU baru,” kata dia.
Kebutuhan terhadap infrastruktur pengisian daya semakin mendesak seiring rencana beroperasinya layanan taksi listrik berbasis aplikasi, Green SM, di Lampung.
Kehadiran layanan tersebut akan meningkatkan kebutuhan SPKLU.
Pada tahap awal, operasional taksi listrik akan fokus pada wilayah dengan tingkat mobilitas tinggi serta kawasan pariwisata.
Strategi ini untuk mendukung pergerakan ekonomi dan aktivitas wisata.
“Operasional awal akan berpudat pada Kota Bandar Lampung, lalu akan semakin memperluas ke Pesawaran, Pringsewu, dan Metro. Tujuannya untuk mendukung aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata,” jelas Levi.








