Jakarta (Lampost.co)– Pemerintah memastikan peluang kerja di Indonesia tetap terbuka meski tekanan global meningkat. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar kerja nasional.
Yassierli menyebut pemerintah tidak tinggal diam menghadapi potensi gejolak ketenagakerjaan. Kementerian Ketenagakerjaan kini mempercepat implementasi sistem peringatan dini pemutusan hubungan kerja (PHK), memperkuat dialog antara perusahaan dan pekerja, serta mengakselerasi program pelatihan dan peningkatan keterampilan.
Baca juga: Rupiah Rebound ke Rp16.985, IHSG Melonjak 2,75% di Awal Perdagangan
“Kita tidak bisa menunggu masalah terjadi. Kita harus bergerak cepat agar pasar kerja tetap stabil,” tegasnya, Rabu, 8 April 2026.
Ia menilai, salah satu tantangan utama saat ini adalah belum sinkronnya kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. Banyak lowongan tersedia, namun belum tersambung secara optimal dengan pencari kerja.
Untuk menjembatani hal tersebut, pemerintah mendorong perusahaan memanfaatkan platform digital KarirHub SIAPKerja sebagai pusat informasi kebutuhan tenaga kerja. Langkah ini diharapkan membuat proses rekrutmen lebih transparan, cepat, dan mudah diakses masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri. Fokus diberikan pada pekerja dengan keterampilan rendah hingga menengah agar siap masuk ke dunia kerja yang semakin kompetitif.
Yassierli menegaskan, penguatan ketenagakerjaan harus melibatkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan tenaga kerja.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong inklusivitas dengan membuka akses kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.
“Pasar kerja yang sehat bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga kesempatan yang adil bagi semua,” ujarnya.
Menaker juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence, akan mengubah lanskap dunia kerja secara signifikan. Karena itu, adaptasi dan peningkatan keterampilan menjadi kunci utama.
Dengan kombinasi kebijakan antisipatif, digitalisasi layanan, dan penguatan SDM, pemerintah optimistis pasar kerja Indonesia tetap tangguh, adaptif, dan inklusif di tengah perubahan global.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








