• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Sabtu, 21/02/2026 09:44
Jendela Informasi Lampung
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Jendela Informasi Lampung
Home Oasis

Mengenal Hujan Meteor Orionid 2024 dan Cara Melihatnya

EffranbyEffran
08/10/24 - 09:37
in Oasis
A A
Hujan meteor. Foto: NASA

Hujan meteor. Foto: NASA

Jakarta (Lampost.co) – Salah satu fenomena langit yang paling ditunggu-tunggu tahun ini adalah hujan meteor Orionid, yang berlangsung dari September hingga November. Puncak hujan meteor itu akan terjadi pada 20 dan 21 Oktober 2024, saat akan terlihat lebih banyak meteor yang menerangi langit malam.

Hujan meteor Orionid selalu menjadi momen spesial bagi para pengamat langit. Fenomena itu salah satu yang terbaik setiap tahun dan bisa seluruh dunia saksikan, termasuk dari Indonesia.

Hujan meteor Orionid berasal dari debu komet Halley, komet yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun. Meski Komet Halley terakhir kali mendekati Bumi pada 1986 dan baru akan kembali pada 2061, partikel debu yang tertinggal menghasilkan hujan meteor setiap bulan Oktober.

Menurut laman resmi NASA, hujan meteor Orionid terkenal karena kecepatan dan kecerahannya. Meteor itu bergerak dengan kecepatan sekitar 66 km/s atau sekitar 148.000 mph saat memasuki atmosfer Bumi.

Beberapa meteor cepat itu meninggalkan jejak cahaya yang disebut kereta meteor, yaitu serpihan puing yang tampak bersinar selama beberapa detik atau menit setelah meteor melintas.

Hujan meteor Orionid berasal dari konstelasi Orion, tepatnya di dekat bintang Betelgeuse, yang menjadi titik pancarnya di langit. Meski berada di Orion, meteor bisa terlihat dari berbagai arah langit, terutama setelah tengah malam hingga menjelang fajar.

Meteor Orionid adalah sisa-sisa debu dari Komet Halley. Komet itu ada sejak zaman dulu dan salah satu komet yang paling sering dengan laporan pengamatan pertama tercatat pada 240 Masehi. Awalnya memiliki nama Edmond Halley, seorang astronom yang menghitung orbit komet itu dengan akurat.

Komet Halley mengorbit Matahari dalam arah yang berlawanan dengan orbit Bumi dan jalurnya miring ke arah Bumi. Hal itu yang membuat komet itu unik di antara objek-objek langit lainnya.

Setiap tahun, ketika Bumi melewati jalur debu yang komet Halley tinggalkan, dapat melihat meteor Orionid yang menyala terang saat partikel tersebut terbakar di atmosfer.

Cara Melihat Hujan Meteor Orionid

Waktu terbaik untuk melihat hujan meteor Orionid adalah antara tengah malam hingga fajar pada 20 dan 21 Oktober.

Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, NASA menyarankan pengamat untuk melihat meteor dari sudut 45 hingga 90 derajat dari titik pancar meteor. Sehingga, meteor akan terlihat lebih panjang dan jelas.

Berikut beberapa tips untuk melihat hujan meteor Orionid:

1. Cari lokasi yang gelap – Sebaiknya hindari area yang terkena polusi cahaya seperti di kota besar. Pergilah ke tempat yang jauh dari lampu jalan, seperti di pedesaan atau pegunungan.

2. Siapkan peralatan – Membawa kantong tidur, selimut, atau kursi taman akan membantu tetap nyaman saat mengamati langit malam dalam jangka waktu lama.

3. Arah pandang – Bagi yang berada di Belahan Bumi Utara, arahkan pandangan ke tenggara. Sedangkan bagi yang berada di Belahan Bumi Selatan, perhatikan langit ke arah timur laut.

4. Adaptasi mata – Berikan mata waktu untuk beradaptasi dengan kegelapan. NASA menyarankan sekitar 30 menit dalam gelap untuk mata menyesuaikan diri dan menangkap cahaya meteor yang melintas.

Jika tidak dapat menyaksikan puncak meteor pada 20 atau 21 Oktober, jangan khawatir. Hujan meteor itu akan terus terlihat hingga awal November, meski intensitasnya tidak setinggi saat puncaknya.

Tags: asal usul hujan meteor orionidcara melihat hujan meteor orionidhujan meteor oktoberhujan meteor orionid 2024komet halley meteor orionidmeteor orionid puncak
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Ilustrasi zaman es. Foto: Wikimedia Commons

Begini Cara Kehidupan di Bumi Bertahan di Fase Paling Ekstrem 

byEffran
31/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kehidupan di bumi pernah mengalami fase paling ekstrem dalam sejarahnya. Pada periode tertentu, hampir seluruh permukaan...

PC Salimah Purbolinggo Peringati Isra’ Mi’raj 1447 H Bersama TPA Annur

PC Salimah Purbolinggo Peringati Isra’ Mi’raj 1447 H Bersama TPA Annur

byMustaan
25/01/2026

PURBOLINGGO (lampost.co) — Pimpinan Cabang (PC) Salimah Purbolinggo memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah bersama anak-anak Taman Pendidikan...

patroli gajah

Karbon, Badak, Gajah dan Masa Depan Way Kambas di Tengah Pasar Karbon Indonesia

byMustaan
19/01/2026

TAMAN Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur selama ini dikenal bukan hanya sebagai surga konservasi satwa endemik. Tetapi juga...

Berita Terbaru

Resident Evil Requiem Jakarta
Teknologi

Jadwal & Panduan Event Resident Evil Requiem Gandaria City 2026: Tips Antrean dan Merchandise

byDenny ZY
21/02/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kehadiran Resident Evil Requiem di Jakarta pada akhir Februari 2026 menjadi magnet luar biasa bagi gamers....

Read moreDetails
Bluepoint Games

Sony Tutup Bluepoint Games, 70 Karyawan PHK

21/02/2026
GTA 6 gratis

Cara Mendapatkan GTA 6 Gratis? Simak Fakta Terbaru 2026 dan Waspada Penipuan

21/02/2026
Lima Kabupaten Jadi Wilayah Survei Seismik 2D Nasional di Lampung

Lima Kabupaten Jadi Wilayah Survei Seismik 2D Nasional di Lampung

21/02/2026
Minecraft Bedrock 26.1

Update Minecraft Bedrock 26.1 Rilis: Perbaikan Stabilitas dan Era Baru Versi 2026

21/02/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.