Jakarta (Lampost.co) — Ketegangan geopolitik kembali meningkat di Timur Tengah. Konflik antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran baru di pasar global. Situasi semakin memanas setelah kabar meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Minggu.
Peristiwa tersebut mengguncang politik Iran dan memicu respons keras dari Teheran. Sehari sebelumnya, serangan militer terjadi di wilayah Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Perkembangan itu membuat banyak analis memperingatkan risiko konflik yang lebih luas. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, pasar keuangan global biasanya ikut bergejolak.
Strategi Keuangan Saat Krisis Global
Ketidakpastian global mendorong investor mencari strategi perlindungan kekayaan. Banyak orang mulai mempertimbangkan aset yang mampu bertahan saat krisis ekonomi guna lindungi kekayaan.
Investor terkenal sekaligus penulis buku keuangan populer Robert Kiyosaki memberikan peringatan keras. Penulis buku Rich Dad Poor Dad itu memperkirakan potensi keruntuhan pasar dalam waktu dekat.
Ia bahkan menyinggung kemungkinan terjadinya depresi ekonomi besar berikutnya. Dia menilai investor harus bersiap menghadapi masa penuh ketidakpastian.
Tiga Aset yang Disebut Paling Aman
Menurut Kiyosaki, tiga jenis aset untuk lindungi kekayaan saat krisis besar. Aset tersebut yaitu emas, perak, dan mata uang kripto seperti Bitcoin. Ia menilai ketiga instrumen tersebut memiliki daya tahan kuat terhadap guncangan ekonomi global.
Kiyosaki juga menyoroti kebijakan ekonomi Amerika sebagai indikator potensi krisis. Ia menyebut Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan bank sentral Amerika sebagai sinyal penting.
“Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan Fed, kemungkinan depresi hebat berikutnya bisa terjadi. Mungkin juga akan muncul perang. Bagi jutaan orang, masa sulit bisa segera datang,” ujarnya.
Ia menegaskan orang yang siap secara finansial justru bisa memanfaatkan krisis. “Bagi mereka yang siap, depresi berikutnya bisa menjadi kesempatan terbaik dalam hidup. Jaga diri, persiapkan keuangan, dan beli emas, perak, serta Bitcoin,” kata Kiyosaki.
Harga Emas Dunia Mulai Menguat
Di tengah ketegangan geopolitik, harga emas global menunjukkan tren penguatan. Pada Senin pagi pukul 06.28 WIB, harga emas mencapai sekitar 5.360,49 dolar AS per troy ounce.
Level tersebut menandai kembalinya harga emas ke atas 5.300 dolar AS. Harga emas terakhir berada di level tersebut pada Desember 2025.
Data pasar dari Refinitiv menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Harga emas global ditutup di 5.277,29 dolar AS per troy ounce pada perdagangan Jumat.
Nilai tersebut naik sekitar 1,74 persen dalam satu hari. Secara mingguan, emas bahkan menguat lebih dari tiga persen. Kenaikan itu juga menjadi level tertinggi dalam sebulan terakhir.
Perak Ikut Melonjak Tajam
Selain emas, harga perak juga mencatatkan kenaikan kuat pada akhir Februari 2026. Pada awal pekan, harga perak berada di sekitar 88,22 dolar AS per troy ounce.
Harga sempat bergerak turun dan naik dalam beberapa hari perdagangan. Namun, tren akhirnya berbalik positif menjelang akhir pekan.
Pada Jumat, harga perak tutup di sekitar 93,81 dolar AS per troy ounce. Jika dari pertengahan Februari, kenaikan tersebut terlihat cukup signifikan. Pada 17 Februari 2026, perak masih di kisaran 73,45 dolar AS.
Bitcoin Masih Tergolong Aset Berisiko
Berbeda dengan emas dan perak, Bitcoin masih menunjukkan volatilitas tinggi. Hingga pertengahan Februari 2026, kinerja Bitcoin mencatat penurunan sekitar 23 persen secara tahunan.
Data itu memperlihatkan Bitcoin masih tergolong aset berisiko tinggi. Saat kepanikan global muncul, investor institusi sering menjual Bitcoin terlebih dahulu.
Mereka biasanya membutuhkan likuiditas untuk menutup margin atau menjaga kas.
Crypto Berbasis Emas Menarik Perhatian
Di tengah gejolak tersebut, muncul fenomena menarik pada pasar kripto. Aset kripto yang berbasis emas justru mencatat performa kuat.
Contohnya adalah PAX Gold dan Tether Gold. Kedua aset digital itu mencatat kenaikan sekitar 15 persen sepanjang tahun.
Perbedaan kinerja antara Bitcoin dan kripto emas mencapai sekitar 38 persen. Banyak pengelola portofolio melihat fenomena itu sebagai sinyal rotasi modal.
Investor global mulai memindahkan dana dari aset spekulatif ke aset yang lebih stabil.
Pergeseran Modal Menuju Aset Aman
Ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis mendorong perubahan strategi investasi global. Arus modal besar mulai meninggalkan instrumen berisiko tinggi.
Sebaliknya, dana tersebut mengalir ke aset yang dianggap lebih aman. Emas, perak, dan aset berbasis emas kembali menarik perhatian investor.
Kiyosaki juga menegaskan pentingnya disiplin keuangan dalam menghadapi krisis. Ia menyarankan masyarakat bekerja keras, mengelola uang dengan bijak, dan memilih investasi yang tepat.
Menurutnya, pendidikan finansial menjadi kunci utama untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Strategi yang tepat membuat krisis justru bisa berubah menjadi peluang besar bagi investor yang siap.








