Jakarta (Lampost.co) — Harga emas dunia tidak menunjukkan lonjakan tajam meskipun ketegangan geopolitik meningkat di Timur Tengah, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Situasi itu biasanya mendorong kenaikan harga emas karena investor mencari aset aman. Namun, kenyataannya, harga emas hanya bergerak terbatas dalam beberapa hari terakhir.
Logam mulia sempat naik setelah serangan militer pada akhir Februari. Harga emas meningkat dari sekitar 5.296 dolar AS menjadi 5.423 dolar AS per troy ounce. Kenaikan tersebut tidak bertahan lama dan segera diikuti aksi jual besar.
Lonjakan Harga Emas Tidak Bertahan Lama
Pasar global merespons konflik geopolitik dengan cepat. Namun, banyak investor memilih mengambil keuntungan setelah kenaikan awal harga emas.
Gelombang aksi jual mendorong harga emas turun lebih dari enam persen. Harga sempat jatuh ke sekitar 5.085 dolar AS per troy ounce pada 3 Maret.
Beberapa hari terakhir harga emas bergerak stabil. Perdagangan terjadi di kisaran 5.050 hingga 5.200 dolar AS per troy ounce. Harga terakhir berada di sekitar 5.175 dolar AS per troy ounce.
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas
Ross Norman menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan emas. Norman memimpin situs analisis logam mulia Metals Daily.
Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika juga memengaruhi minat investor. “Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang bergairah,” kata Norman.
Ia menilai kondisi tersebut wajar setelah kenaikan besar dalam beberapa bulan terakhir. Dia juga menyoroti kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Kenaikan energi dapat memperpanjang tekanan inflasi global.
Suku Bunga Tinggi Mengubah Pilihan Investor
Inflasi tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Suku bunga tinggi membuat obligasi pemerintah terlihat lebih menarik.
Investor sering memilih aset yang memberikan imbal hasil tetap. Emas tidak menghasilkan bunga sehingga daya tariknya menurun. Situasi tersebut membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Investor Sempat Menjual Emas Saat Krisis
Amer Halawi menjelaskan perilaku investor saat krisis. Ia memimpin divisi riset di perusahaan investasi Al Ramz.
Menurut Halawi, investor sering menjual berbagai aset saat pasar mengalami tekanan likuiditas. “Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam program “Access Middle East”. Investor biasanya membutuhkan waktu untuk memahami situasi pasar.
Setelah kondisi stabil, investor kembali membeli aset yang dianggap aman. “Secara tradisional, ketika pasar terguncang, bahkan emas bisa ikut dijual,” tambahnya.
Prospek Harga Emas Tetap Positif
Meski pergerakan jangka pendek terlihat datar, prospek emas masih dianggap positif. Beberapa bank investasi global tetap optimistis terhadap logam mulia. JPMorgan Chase memperkirakan harga emas bisa mencapai 6.300 dolar AS per troy ounce pada akhir 2026.
Sementara Deutsche Bank memproyeksikan harga sekitar 6.000 dolar AS per troy ounce. Para analis melihat ketidakpastian geopolitik sebagai faktor utama.
Inflasi global dan ketegangan di Timur Tengah juga memperkuat permintaan emas. Dalam jangka panjang, emas tetap menjadi aset lindung nilai yang penting bagi investor global.








