Bandar Lampung (Lampost.co)—Industri otomotif Indonesia memasuki fase transisi penting sepanjang 2025.
Tren elektrifikasi yang kian masif mendorong pabrikan melakukan penyesuaian strategi. Termasuk merapikan portofolio produk. Dampaknya, sejumlah model bermesin konvensional perlahan menarik dari jalur produksi, menggantikan varian hybrid atau mengalihkan ke model lain dalam satu segmen.
Fenomena ini menandai pergeseran besar: bukan hanya soal teknologi. Tetapi juga reposisi merek dan segmentasi pasar yang lebih tegas.
Baca juga: Toyota Avanza Bekas Tahun 2010–2017 Jadi Incaran, ini Alasan dan Harganya
Toyota Veloz
Toyota menjadi salah satu pabrikan yang paling jelas menunjukkan arah perubahan. Melalui peluncuran Veloz Hybrid di ajang GAIKINDO Jakarta Auto Week (GJAW) 2025. PT Toyota Astra Motor (TAM) resmi menghentikan produksi Veloz bermesin bensin murni (ICE).
Langkah ini menjadikan Veloz sebagai Low MPV berteknologi ramah lingkungan. Sementara kebutuhan konsumen terhadap MPV bensin konvensional dialihkan ke Toyota Avanza.
Strategi tersebut sekaligus mempertegas diferensiasi produk dalam satu keluarga.
“Kalau mau yang ICE masih ada Avanza. Kalau mau hybrid dan elektrifikasi. Kita sediakan Veloz,” ujar Marketing Director PT Toyota Astra Motor, Jap Ernando Demily.
Saat ini, unit Veloz non-hybrid yang masih beredar di dealer hanya berasal dari sisa stok. Konsumen bahkan bisa mendapatkan diskon besar hingga puluhan juta rupiah, seiring upaya dealer menghabiskan pasokan terakhir.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, menegaskan bahwa nama Veloz akan menjadi identitas khusus untuk varian hybrid di segmen Low MPV Toyota.
Honda Turbo
Pergeseran serupa terjadi di tubuh Honda. PT Honda Prospect Motor (HPM) menghentikan produksi Honda HR-V Turbo RS, yang sebelumnya menjadi varian tertinggi dengan mesin bertenaga besar.
Model tersebut kini tidak lagi tercantum di situs resmi Honda Indonesia. Sebagai gantinya, Honda menghadirkan HR-V Hybrid e:HEV, yang langsung menempati posisi varian teratas.
“Iya, HR-V Turbo RS sudah tidak diproduksi,” kata Sales & Marketing and After Sales Director HPM, Yusak Billy.
Menariknya, HR-V Hybrid tidak hanya menawarkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, tetapi juga harga yang lebih kompetitif.
Jika HR-V Turbo RS sempat dibanderol Rp 551,4 juta, maka HR-V e:HEV RS dijual Rp 488 juta. Menjadikannya lebih terjangkau sekaligus lebih relevan dengan arah pasar.
Chery: Seleksi Model Berdasarkan Permintaan Pasar
Dari pabrikan asal Tiongkok, Chery Sales Indonesia (CSI) juga melakukan rasionalisasi lini produk. Model Tiggo 5X tidak lagi menampilkan di situs resmi. Seiring perusahaan memprioritaskan produksi dan distribusi Tiggo Cross yang mencatat permintaan lebih tinggi.
Langkah ini mencerminkan strategi fokus pada model dengan potensi volume besar. Sekaligus efisiensi produksi di tengah persaingan SUV kompak yang semakin padat.
Suzuki Baleno
Suzuki Indonesia turut merombak jajaran produknya. Suzuki Baleno, hatchback yang sempat populer. Sudah tidak lagi mengirim ke dealer sejak awal 2025 dan namanya menghilang dari situs resmi Suzuki.
Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan. Meski total penjualan Baleno pada semester pertama 2025 mencapai 1.956 unit. Tidak ada lagi pengiriman unit baru sepanjang tahun ini. Baleno sendiri berstatus CBU (Completely Built Up) dari India.
Hilangnya Baleno beriringan dengan kehadiran Suzuki Fronx, SUV kompak bergaya coupe yang terproyeksikan menjadi tulang punggung penjualan Suzuki dengan target 2.000 unit per bulan.
Keunggulan Fronx tidak hanya pada desain dan segmen yang sedang naik daun. Tetapi juga karena memproduksi secara lokal di pabrik Suzuki Cikarang, Jawa Barat, yang membuatnya lebih kompetitif dari sisi harga dan pasokan.
Transisi Tak Terelakkan
Gelombang penghentian produksi ini menegaskan bahwa elektrifikasi bukan lagi wacana jangka panjang, melainkan realitas pasar. Pabrikan tidak sekadar menambah varian listrik atau hybrid. Tetapi juga berani “memensiunkan” model lama demi fokus pada produk yang lebih sesuai dengan regulasi, efisiensi, dan preferensi konsumen masa depan.
Ke depan, tren serupa prediksinya akan terus berlanjut. Terutama di segmen kendaraan mass market, seiring pemerintah dan industri mendorong ekosistem kendaraan rendah emisi di Indonesia.








