Bandar Lampung (Lampost.co) — Harga kedelai berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) kembali melemah pada perdagangan Selasa. Tekanan muncul setelah pasar merespons ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Kontrak kedelai Maret 2026 turun 0,42 persen ke level 11,29 dolar AS per bushel. Penurunan itu mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah ekspor komoditas pertanian AS.
Sentimen negatif muncul setelah Mahkamah Agung (MA) membatalkan kebijakan tarif impor sebelumnya. Keputusan tersebut memicu spekulasi baru terkait stabilitas perdagangan global.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump pada Sabtu menaikkan tarif sementara menjadi 15 persen untuk seluruh impor ke AS. Langkah itu menambah ketidakpastian bagi importir dan eksportir.
Pelaku pasar kini menunggu respons negara mitra dagang utama. Investor mempertimbangkan kemungkinan pembatalan kesepakatan perdagangan atau aksi balasan dari negara lain. Kondisi itu langsung menekan harga komoditas berbasis ekspor seperti kedelai.
Fokus Pasar Beralih ke Data Ekonomi AS
Selain isu perdagangan, pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pemerintah juga akan merilis data ADP Employment Change mingguan.
Pasar juga menunggu rilis CB Consumer Confidence untuk Februari. Kedua data tersebut dapat memengaruhi pergerakan dolar AS.
Sejumlah pejabat Federal Reserve juga akan menyampaikan pernyataan. Golsbee, Bostic, Collins, Waller, dan Cook akan memberikan pandangan terkait kebijakan moneter.
Jika pejabat Fed menyampaikan nada hawkish, dolar AS berpotensi menguat. Penguatan dolar biasanya menekan harga komoditas, termasuk kedelai.
Proyeksi Pergerakan Harga Kedelai
Analis Vibiz Research Center memproyeksikan harga kedelai masih berpotensi tertekan. Ketidakpastian perdagangan menjadi faktor utama tekanan jangka pendek.
Namun, arah pergerakan tetap bergantung pada data ekonomi yang akan rilis. Jika data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen membaik, volatilitas bisa meningkat.
Secara teknikal, harga kedelai bisa bergerak pada area support 11,26 hingga 11,22 dolar AS per bushel. Jika tekanan berlanjut, harga bisa menguji batas bawah tersebut.
Sebaliknya, jika muncul sentimen positif, harga berpeluang menguat menuju resistance 11,35 hingga 11,40 dolar AS per bushel.
Untuk saat ini, pelaku pasar memilih sikap hati-hati. Investor menunggu kepastian arah kebijakan perdagangan dan sikap terbaru bank sentral.
Pergerakan harga kedelai dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen perdagangan dan kekuatan dolar AS.








