Mentan Klaim Petani Ketiban Untung dari Rupiah Rp17.700 per Dolar

sektor pertanian menjadi salah satu pihak yang paling untung.

Editor Effran
Jumat, 22 Mei 2026 12.45 WIB
Mentan Klaim Petani Ketiban Untung dari Rupiah Rp17.700 per Dolar
Ilustrasi rupiah. Foto: MI/Adam Dwi

Jakarta (Lampost.co) – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.700 per dolar Amerika Serikat ternyata tidak sepenuhnya membawa dampak buruk bagi Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai kondisi tersebut justru memberi keuntungan besar bagi sektor pertanian dan masyarakat desa. Menurut Amran, penguatan dolar AS ikut mendorong nilai ekspor komoditas pertanian Indonesia meningkat tajam.

Amran mengatakan setiap krisis ekonomi selalu menghadirkan sisi positif dan negatif. Namun kali ini, sektor pertanian menjadi salah satu pihak yang paling untung.

Ia menilai kondisi tersebut bergantung pada kemampuan pemerintah dan masyarakat memanfaatkan situasi ekonomi global. “Setiap ada krisis atau kondisi apa pun pasti ada plus minus,” ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

Nilai Ekspor Pertanian Naik Rp166 Triliun

Menurut Amran, pelemahan rupiah membuat produk pertanian Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pertanian naik hingga Rp166 triliun. Di saat bersamaan, impor sektor pertanian justru turun Rp41 triliun.

Amran menyebut kondisi itu menjadi sinyal positif bagi ekonomi desa dan petani lokal. “Inilah yang Bapak Presiden maksud dampak positif di desa jauh lebih tinggi,” katanya.

Amran mengatakan kenaikan harga komoditas membuat petani semakin serius mengelola lahan pertanian mereka. Petani mulai lebih memperhatikan pemupukan, pengairan, hingga pengendalian hama tanaman.

Ia menilai situasi tersebut ikut mendorong peningkatan produktivitas sektor pangan nasional. “Karena menguntungkan, tanamannya dipupuk dengan baik dan dipelihara dengan baik,” ujarnya.

BBM Subsidi dan Pupuk Jadi Penopang

Amran juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa yang tidak terlalu terdampak gejolak dolar AS. Kondisi itu terjadi karena pemerintah masih menjaga stabilitas BBM subsidi dan harga pupuk. “BBM subsidi tidak naik, pupuk turun,” kata Amran.

Ia menilai kebijakan tersebut membantu menjaga daya beli masyarakat pedesaan di tengah tekanan ekonomi global.

Harga Kedelai dan Bawang Putih Tetap Tertekan

Meski begitu, Amran mengakui pelemahan rupiah tetap memicu kenaikan harga komoditas impor. Beberapa bahan pangan seperti kedelai dan bawang putih mulai mengalami tekanan harga akibat dolar AS yang menguat.

Kedelai menjadi perhatian karena bahan baku utama tahu dan tempe. “Pasti berpengaruh, tetapi porsinya kecil,” ujarnya.

Amran menilai dampaknya terhadap konsumsi masyarakat masih relatif terbatas daripada komoditas lain.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga, pemerintah memanggil seluruh importir kedelai. Dia menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi kenaikan harga yang berlebihan. “Kalau naik semena-mena, izinnya saya cabut,” tegasnya.

Selain itu, Kementerian Pertanian bersama Satgas Pangan terus memperketat pengawasan distribusi pangan nasional. Langkah tersebut untuk mencegah praktik mafia pangan yang ikut memicu gejolak harga di pasar.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI