Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar, Pengamat Bongkar Masalah yang Menggerogoti RI

Editor Effran
Jumat, 22 Mei 2026 12.40 WIB
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar, Pengamat Bongkar Masalah yang Menggerogoti RI
Petugas bank menunjukkan uang rupiah. Antara

Jakarta (Lampost.co) – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi itu memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun, pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah bukan semata akibat minimnya intervensi Bank Indonesia di pasar keuangan.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menyebut akar masalah rupiah justru berasal dari struktur ekonomi nasional yang melemah dalam jangka panjang.

Anthony mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak muncul karena kesalahan teknis kebijakan moneter. Sebab, persoalan utama berasal dari defisit transaksi berjalan yang terus terjadi selama bertahun-tahun. “Kondisi itu bersifat struktural dan berada di luar kendali otoritas moneter,” ujar Anthony dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan kebutuhan dolar AS di dalam negeri lebih besar daripada pasokan yang masuk. Akibatnya, rupiah terus kehilangan tenaga ketika aliran modal asing mulai melambat.

Rupiah Hanya Ditopang Utang dan Dana Asing

Anthony menilai kestabilan rupiah selama beberapa tahun terakhir banyak bergantung pada utang luar negeri dan investasi asing. Dana tersebut untuk menutup defisit transaksi berjalan Indonesia.

Ketika arus modal asing mulai melemah, tekanan terhadap kurs rupiah langsung meningkat tajam. Sehingga, cadangan devisa Indonesia turun signifikan sepanjang awal 2026.

Cadangan devisa tercatat menyusut dari US$156,5 miliar menjadi US$146,2 miliar dalam empat bulan. Kondisi itu menunjukkan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

Rupiah Bisa Sentuh Rp20.000

Anthony memperingatkan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Bahkan, kurs rupiah bisa menembus level Rp18.000 hingga Rp20.000 per dolar AS jika kondisi ekonomi tidak segera membaik.

Ia juga menegaskan siapa pun Gubernur Bank Indonesia tidak akan mampu menahan pelemahan rupiah jika fondasi ekonomi nasional tetap rapuh. “Kalau kondisi itu berlanjut, kurs rupiah pasti akan terus terpuruk,” katanya.

Sektor Manufaktur Semakin Melemah

Anthony menyoroti kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB yang terus menurun. Menurutnya, Indonesia kini mengalami gejala deindustrialisasi dini.

Selain itu, ekspor nasional juga stagnan dan kalah bersaing daripada negara tetangga seperti Vietnam. Ia menyebut nilai ekspor Vietnam saat ini mencapai 1,6 kali lebih besar dibandingkan Indonesia. Di saat bersamaan, utang luar negeri pemerintah terus bertambah demi menopang kebutuhan fiskal negara.

BI Punya Pilihan Sulit

Anthony mengakui Bank Indonesia masih memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satunya melalui kenaikan suku bunga acuan.

Namun, langkah tersebut memiliki risiko besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan dunia industri. “Bank Indonesia hanya dapat menggunakan instrumen kenaikan suku bunga,” ujarnya.

Menurut Anthony, suku bunga rendah sebelumnya mampu mendorong daya saing sektor manufaktur. Namun, harapan tersebut belum membuahkan hasil signifikan.

Pelemahan Rupiah Cerminan Masalah Ekonomi Nasional

Anthony menegaskan pelemahan rupiah tidak bisa hanya menjadi beban Bank Indonesia. Kondisi itu menjadi gambaran lemahnya pengelolaan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat struktur industri dan meningkatkan daya saing ekspor agar rupiah kembali stabil. Sebelumnya, rupiah tercatat melemah 0,37 persen hingga menyentuh level Rp17.733 per dolar AS. Angka tersebut menjadi level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI