Di sisi lain, Iran mulai menyiapkan strategi balasan yang lebih mematikan dan meluas ke berbagai kawasan.
Jakarta (Lampost.co) – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali mendekati titik paling berbahaya. Gencatan senjata yang sempat meredakan konflik kini terancam runtuh setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan besar terhadap Teheran.
Di sisi lain, Iran mulai menyiapkan strategi balasan yang lebih mematikan dan meluas ke berbagai kawasan. Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari kini menyeret banyak pihak, mulai dari Lebanon, Uni Emirat Arab, hingga Dewan Keamanan PBB.
Donald Trump mengungkapkan sempat membatalkan serangan udara besar ke Iran pada menit terakhir. Namun, ia menegaskan opsi militer tetap terbuka jika kesepakatan damai gagal tercapai dalam beberapa hari ke depan. “Saya katakan dua atau tiga hari,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Dia juga mengklaim Iran kini berada dalam posisi tertekan setelah serangan militer sebelumnya. Ia bahkan menyebut Teheran mulai memohon agar negosiasi damai terus berjalan.
Militer Iran langsung merespons ultimatum tersebut dengan ancaman keras. Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan Teheran siap membuka front pertempuran baru jika Amerika Serikat kembali menyerang. “Jika musuh kembali melancarkan agresi, kami akan membuka front baru dengan metode baru,” katanya.
Iran juga mengklaim memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat kemampuan tempur. Selain itu, Teheran mulai memakai Selat Hormuz sebagai tekanan strategis terhadap pasokan minyak dunia.
Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi militer Amerika kini berada dalam kondisi siap tempur penuh.
Meski demikian, Washington masih mencoba membuka jalur komunikasi agar perang tidak kembali pecah. Ia menegaskan Amerika Serikat tetap menyiapkan opsi serangan jika negosiasi gagal total. “Banyak kemajuan baik sedang dibuat,” ujar Vance.
Di tengah konflik yang memanas, Donald Trump juga menghadapi tekanan politik dari dalam negeri. Biaya perang yang terus membengkak mulai memicu kekhawatiran publik Amerika Serikat. Harga bahan bakar dan biaya hidup ikut melonjak akibat ketidakstabilan global.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi bahkan menyindir Trump melalui media sosial X. Ancaman perang tersebut hanya untuk menutupi tekanan politik dalam negeri Amerika.
Situasi perang juga memicu perpecahan politik di Washington. Senat AS mulai mendorong pembatasan kekuasaan Trump terkait keputusan perang melawan Iran.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer melontarkan kritik tajam terhadap Presiden AS. Menurut laporan, biaya perang kini melampaui US$30 miliar. “Presiden itu seperti balita yang bermain dengan pistol berpeluru,” kata Schumer.
Ketegangan regional semakin meningkat setelah drone menghantam area dekat pembangkit nuklir Barakah di Uni Emirat Arab.
Serangan itu memicu sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Rusia ikut mengecam serangan terhadap fasilitas nuklir sipil tersebut. “Serangan terhadap fasilitas nuklir damai sama sekali tidak dapat diterima,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzya.
Israel juga memperluas operasi militer ke Lebanon selatan. Serangan udara terbaru menewaskan sedikitnya 19 orang.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut korban termasuk perempuan dan anak-anak. Israel mengklaim serangan itu balasan atas aksi Hezbollah yang didukung Iran.
Di tengah konflik panas, Iran justru memberi sinyal diplomasi lewat pembebasan Shahab Dalili. Ia merupakan warga Iran yang memiliki status penduduk tetap Amerika Serikat.
Lembaga HAM HRANA menyebut Dalili kembali ke AS setelah menjalani hukuman 10 tahun.
Sementara, Komando Sentral AS atau CENTCOM masih menyelidiki serangan udara yang menghantam sekolah di Iran. Serangan itu menewaskan 155 orang.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan lokasi sekolah berada dekat pangkalan militer Iran. Untuk itu, investigasi lebih kompleks daripada serangan biasa.
Dampak perang pun mulai terasa hingga Eropa. Uni Eropa menyiapkan bantuan besar bagi petani akibat harga pupuk yang melonjak tajam.
Komisaris Pertanian Uni Eropa Christophe Hansen mengatakan perang Iran membuat biaya produksi pangan meningkat drastis. Negara-negara G7 juga mulai bergerak mengantisipasi dampak ekonomi global.
Menteri keuangan G7 menggelar pertemuan darurat di Paris. Mereka membahas langkah menjaga stabilitas ekonomi dunia di tengah perang Timur Tengah. “Kami menjalani diskusi yang jujur dan sulit,” ujar Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update