Jakarta (Lampost.co) — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyoroti potensi risiko dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Ia menilai konflik tersebut dapat menjadi bom waktu bagi perekonomian dan sektor jasa keuangan Indonesia.
Mahendra menyampaikan pelaku pasar dan industri jasa keuangan masih terus memantau perkembangan global. Fokus utama tertuju pada stabilitas politik dan dinamika pasar keuangan internasional. Namun, hingga kini Indonesia belum merasakan dampak langsung dari konflik tersebut.
Dampak Jangka Pendek Masih Terbatas
Mahendra menjelaskan konflik AS dan Venezuela belum memicu tekanan signifikan bagi Indonesia. Ia menilai produksi minyak dunia dan harga komoditas global masih relatif stabil.
Harga komoditas utama ekspor Indonesia juga belum menunjukkan gejolak berarti. “Kondisi itu membuat dampak jangka pendek terhadap ekonomi nasional masih terkendali,” kata Mahendra, dalam konferensi pers bulanan OJK secara virtual, beberapa waktu lalu.
Risiko Jangka Menengah dan Panjang Perlu Diwaspadai
Mahendra meminta semua pihak tetap waspada meski dampak awal terbilang minim. Ia menilai risiko jangka menengah dan panjang berpotensi meningkat.
Tensi geopolitik global sudah tinggi bahkan sebelum konflik AS dan Venezuela terjadi. Ketidakpastian politik global terus menekan stabilitas ekonomi dunia. Eskalasi konflik dapat memicu gangguan lanjutan pada pasar keuangan internasional.
Preseden Pelanggaran Kedaulatan Jadi Ancaman Baru
Mahendra menyoroti tren pelanggaran kedaulatan antarnegara yang kian sering terjadi. Ia menyebut beberapa konflik besar sebagai contoh nyata.
Konflik Rusia dan Ukraina, krisis Gaza, hingga ketegangan Venezuela menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Negara pelanggar kedaulatan kerap tidak menerima sanksi yang setimpal. Kondisi itu berpotensi menciptakan preseden buruk di kawasan lain, termasuk Asia.
OJK Minta Lembaga Keuangan Perketat Manajemen Risiko
Dia memastikan OJK terus memantau risiko global secara intensif. Ia meminta seluruh lembaga jasa keuangan meningkatkan kewaspadaan.
Ia menekankan pentingnya pemantauan risiko pasar, likuiditas, dan pembiayaan kredit. Langkah itu krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. OJK juga mendorong pelaku industri menyiapkan mitigasi terhadap skenario terburuk.
Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Jadi Tantangan Tambahan
Dia menambahkan tantangan global tidak hanya datang dari geopolitik. Sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 berada di bawah 3 persen.
Proyeksi tersebut menjadi level terendah sejak pandemi covid-19. Perlambatan global berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang. Kombinasi konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi global perlu diantisipasi sejak dini.







