Jakarta (Lampost.co) — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan kehadiran quick response code indonesian standard (QRIS) membuat para operator kartu kredit mulai merasa terancam. Sebab, QRIS kini menjadi ujung tombak transaksi digital di Indonesia dan menyalip penggunaan kartu kredit di berbagai sektor.
“QRIS rupanya menyalip penggunaan credit card. Makanya, berbagai operator mulai jengah melihat bagaimana agar bisa bergerak cepat. Jumlah pengguna QRIS sekarang mencapai 56 juta,” ujar Airlangga dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth, di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis (16/10).
Airlangga menegaskan Indonesia kini terus memperkuat transaksi dagang berbasis mata uang lokal atau local currency transaction (LCT). Hal itu sejalan dengan ekspansi QRIS ke berbagai negara. Menurutnya, langkah itu mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Airlangga juga menyoroti pesatnya pertumbuhan ekonomi digital yang kini mencapai nilai US$150 miliar. Ia menyebut, sektor digital tidak terpengaruh tarif dagang global dan justru terus berkembang di berbagai lini usaha.
“Jangan khawatir kalau kalah di bidang digital. Ekonomi digital Indonesia sangat menguasai, bahkan mencapai US$150 miliar. Sektor ini tidak takut terhadap tarif-tarifan,” tegasnya.
Ia mencontohkan, sektor logistik dan pergudangan (warehouse) mencatat pertumbuhan sekitar 8 persen, jauh di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional. Lonjakan itu menjadi bukti nyata dampak positif digitalisasi terhadap produktivitas dan efisiensi bisnis.
Dorongan Investasi Digital
Dalam kesempatan itu, Airlangga juga meminta Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, untuk mulai melirik potensi investasi di sektor digital.
Ia menilai, dukungan investasi dari lembaga pengelola dana besar seperti Danantara bisa mempercepat akselerasi transformasi ekonomi Indonesia.
“Ekonomi digital akan jadi mesin utama pertumbuhan ke depan. Saya mendorong Pandu dan Danantara untuk ikut menggarap sektor ini,” kata Airlangga.
Airlangga menjelaskan, Indonesia kini aktif memperluas kerja sama sistem pembayaran lintas negara berbasis QRIS dan LCT. Sejumlah negara sudah bergabung, antara lain Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) baru saja meresmikan peluncuran QRIS Indonesia-Jepang pada 17 Agustus 2025. Inisiatif itu memungkinkan wisatawan Indonesia di Jepang bertransaksi langsung tanpa harus menukar yen.
Uji coba perdana di World Expo Osaka 2025, dan kini QRIS ada di sejumlah merchant Bandara Haneda. BI berencana memperluas penggunaannya ke kota-kota besar di Jepang secara bertahap.
Perluasan QRIS lintas negara itu menunjukkan sistem pembayaran digital Indonesia semakin inklusif, efisien, dan kompetitif di kancah global. Dia optimistis, penguatan ekosistem digital akan menjadi fondasi penting bagi target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada 2026.








