Jakarta (Lampost.co)– Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis, 9 April 2026. Mata uang Garuda melemah tipis di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta sentimen domestik yang belum sepenuhnya solid.
Berdasarkan data pasar uang, rupiah dibuka turun 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.030 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.012 per dolar AS. Sepanjang pagi, pergerakan rupiah terpantau fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Baca juga: Buruh Beri Sinyal Gelombang Besar PHK Massal 3 Bulan Lagi
Tekanan eksternal menjadi faktor dominan. Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan aversi risiko di pasar global. Kondisi ini berdampak langsung pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai eskalasi konflik memperburuk sentimen pasar. Laporan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata serta serangan udara di wilayah Beirut memicu kekhawatiran baru investor.
“Ketegangan geopolitik kembali meningkat dan mendorong harga minyak naik. Ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” ujarnya.
Situasi semakin kompleks setelah muncul perbedaan tafsir antara Amerika Serikat dan Iran terkait cakupan kesepakatan damai, yang turut memicu ketidakpastian berkepanjangan di kawasan.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi yang belum memberikan dorongan kuat. Cadangan devisa Indonesia tercatat turun 3,7 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026. Sementara itu, surplus neraca perdagangan hanya mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS, lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Di sisi lain, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi pada awal sesi turut menambah tekanan psikologis di pasar keuangan domestik.
Pelaku pasar kini menanti respons kebijakan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga masih menjadi faktor kunci yang membayangi pergerakan rupiah.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak terbatas di kisaran Rp17.020 hingga Rp17.080 per dolar AS, dengan volatilitas tinggi seiring dinamika global yang belum mereda.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








