Sutradara Nia Dinata resmi memulai syuting film Berbagi Suami 2.0. Sinema ini mengangkat isu poligami modern, dampak psikologis, serta konflik hak waris.
Jakarta (Lampost.co) – Sutradara Nia Dinata kembali memantik diskusi publik lewat karya sinema terbarunya. Melalui rumah produksi Kalyana Shira Films, ia resmi memulai proses syuting film Berbagi Suami 2.0 sejak tanggal 21 Mei 2026 kemarin.
Proses pengambilan gambar film ini akan berlangsung di tiga kota besar hingga bulan Juli 2026 mendatang. Selain itu, sang sutradara ingin menghadirkan kembali kompleksitas moral dalam hubungan keluarga poligami di era modern.
Baca juga : Roger Danuarta dan Cut Meyriska Pisah Ranjang ? Ini Faktanya
Cerita film baru ini merefleksikan posisi rentan perempuan serta anak dalam konteks sosial masa kini. Selanjutnya, narasi film juga menyinggung masalah kesehatan mental, penderitaan emosional, hingga konflik perebutan hak waris.
Saat ini, perhatian publik terhadap isu perselingkuhan dan poligami di Indonesia memang sedang meningkat tajam. Terkait fenomena tersebut, Komnas Perempuan menyebut praktik poligami kerap kali berawal dari sebuah perselingkuhan.
Tindakan itu tentu menimbulkan penderitaan psikologis yang sangat berat bagi pihak istri sah. Bahkan, para psikolog tahun ini juga menyoroti peningkatan risiko stres kronis akibat relasi keluarga yang timpang.
Anak-anak dalam lingkungan tersebut juga rentan mengalami kecemasan, depresi, hingga penurunan rasa percaya diri. Oleh karena itu, Nia Dinata mengangkat realitas sosial yang memprihatinkan ini ke dalam layar lebar.
Meskipun memakai judul yang mirip, proyek ini bukanlah kelanjutan langsung dari film pendahulunya dua dekade lalu. Sebaliknya, film Berbagi Suami 2.0 hadir sebagai karya segar dengan tiga karakter utama yang sama sekali berbeda.
Namun, Nia Dinata tetap mempertahankan isu poligami sebagai benang merah utama yang menghubungkan kisah ketiganya. Langkah ini bertujuan membuka mata masyarakat mengenai tekanan sosial dalam struktur keluarga modern di era digital.
“Dua puluh tahun lalu, Berbagi Suami berbicara tentang poligami sebagai fenomena sosial yang mulai terlihat di ruang publik. Hari ini, struktur film tetap dengan tiga karakter keluarga, detail dan kondisinya mengalami perubahan sesuai dengan zaman, tetapi persoalan tentang ketimpangan relasi, luka emosional, dan posisi perempuan dalam keluarga masih sangat relevan,” tutur Nia.
Nia juga menambahkan bahwa keberadaan media sosial kini sering membuat masalah domestik menjadi konsumsi publik yang sensasional. Akibatnya, masyarakat sering menormalisasi luka emosional jangka panjang yang menimpa perempuan dan anak-anak.
“Film ini berangkat bukan dari penghakiman, tetapi dari sebuah ajakan untuk merasakan dampak yang sering kali disembunyikan dan dianggap normal,” lanjutnya.
Tim produksi memilih kota Yogyakarta, Solo, dan Jakarta sebagai latar utama tempat pengambilan gambar. Menariknya, sejumlah kru inti dari film versi tahun 2006 silam tampak bergabung kembali dalam proyek besar ini.
Sebut saja Penata Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful serta Penata Busana Tania Soeprapto yang siap mengemas visual film. Selain itu, Penata Musik Aghi Narottama juga ikut menata audio demi membangun atmosfer emosional yang kuat.
Sementara itu, aktris Melissa Karim kini memegang peran penting di balik layar sebagai produser film. Melalui kolaborasi solid ini, pihak studio berharap mampu membuka ruang diskusi sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan rencana matang dari pihak manajemen, film Berbagi Suami 2.0 akan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia pada tahun 2027 mendatang.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update