Jakarta (Lampost.co) – Mantan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M. Praswad Nugraha menilai kecil kemungkinan terjadi suap atau gratifikasi pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Ia menduga, dugaan korupsi proyek kereta cepat tersebut hanya berkaitan dengan kerugian negara.
Sebelumnya, KPK membuka penyelidikan atas dugaan mark up dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Isu rasuah itu bergulir usai viralnya pernyataan eks Menko Polhukam Mahfud MD.
“Ini menjadi indikasi yang serius terjadinya korupsi karena kemahalan tersebut telah merugikan keuangan negara. Ini juga karena membuat beban pembayaran yang harus dibayar oleh negara menjadi sangat tinggi,” kata Praswad melalui keterangan, Sabtu, 1 November 2025.
Kemudian Praswad mengatakan, spekulasi darinya berdasarikan keterangan eks Menkopolhukam Mahfud MD. Terbilang, Mahfud menyebut ada mark up atau peningkatan harga wajar dari proyek Whoosh.
“Terdapat indikasi yang besar adanya dugaan korupsi pada proyek Kereta Cepat Whoosh apabila apa yang tersampaikan oleh Mahfud MD. Bahwa terjadi kenaikan angka sampai tiga kali lipat dari harga yang normal adalah suatu kebenaran,” ucap Praswad.
Selanjutnya analisis dia juga didasari kerugian dari operasional Whoosh sampai saat ini. Praswad menyebut ada sejumlah pihak yang tengah mencoba menutup kerugian negara dengan biaya operasional Whoosh.
“Terlebih, sampai saat ini pun terjadi perdebatan bagaimana cara untuk bisa menutup kerugian yang terjadi akibat dari adanya proyek Kereta Cepat Whoosh,” terang Praswad.








