Jakarta (Lampost.co)–Nama Budi Arie Setiadi, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2023–2024 yang kini menjabat sebagai Menteri Koperasi, tersebut dalam surat dakwaan kasus suap pengamanan situs judi online (judol). Dakwaan yang pembacaannya dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu, 14 Mei 2025.
Poin Penting:
- Nama mantan Menkominfo tersebut dalam sidang perdana kasus suap pengamanan situs judi online.
- Pengamanan 20.192 situs judi online dari pemblokiran berhasil mengumpulkan dana hingga Rp171,11 miliar.
- Budi Arie menyangkal tudingan keterlibatan judol dan menyebutnya sebagi fitnah.
Jaksa Penuntut Umum Pompy Polansky Alanda menyampaikan dakwaan terhadap Zulkarnaen Apriliantony, salah satu dari 24 tersangka dalam kasus ini. Zulkarnaen merupakan orang dekat Budi Arie dan berperan mengoordinasikan penjagaan ribuan situs judi online bersama pejabat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) perubahan dari Kemenkominfo.
Dalam dakwaan, Budi Arie disebut memulai keterlibatannya sejak Oktober 2023, saat masih menjabat sebagai Menkominfo. Saat itu, Budi Arie meminta Zulkarnaen untuk mencarikan orang yang mampu mengumpulkan data situs judi online. Zulkarnaen lalu memperkenalkannya kepada Adhi Kismanto, yang mempresentasikan alat crawling data situs judol.
Bada Juga: Mahfud MD: Pemeriksaan Budi Arie Langkah Tepat
Meskipun Adhi gagal dalam seleksi tenaga ahli karena tidak memiliki gelar sarjana, Budi Arie tetap menginstruksikan agar Adhi diterima bekerja. Tugas Adhi adalah melacak situs judi online dan melaporkannya ke tim Take Down Kemenkominfo.
Pada Januari 2024, praktik penjagaan situs judi online mulai berjalan. Sejumlah situs tersebut ternyata dikoordinasikan oleh Alwin Jabarti Kiemas dan Denden Imadudin Soleh. Mereka hanya membayar “uang koordinasi” sebesar Rp280 juta karena tidak ingin membayar tarif penjagaan.
Kemudian, Muhrijan alias Agus mengetahui praktik ini dari percakapan adiknya, Muchlis Nasution. Ia mengancam akan melaporkan praktik tersebut ke Menkominfo jika tidak diberi kompensasi. Muhrijan akhirnya meminta uang hingga Rp1,5 miliar kepada Denden.
Penjagaan Situs
Muhrijan juga menemui Adhi dan menawarkan kelanjutan praktik penjagaan situs judol dengan imbalan hingga Rp5 miliar atau 20 persen dari total pemasukan. Tawaran itu deal, dan Adhi lalu mempertemukan Muhrijan dengan Zulkarnaen, yang mengklaim sebagai teman baik Budi Arie.
Dalam dakwaan, jaksa menyebut bahwa dari praktik ini, mereka mengamankan 20.192 situs judi online dari pemblokiran dan mengumpulkan dana hingga Rp171,11 miliar. Pembagian uang dengan skema: 20 persen untuk Adhi Kismanto, 30 persen untuk Zulkarnaen, dan 50 persen untuk Budi Arie Setiadi. Kode setorannya dengan “Bagi PM” dan “CHF”.
Jaksa juga mengungkap bahwa pada April 2024, Adhi dan Zulkarnaen memindahkan kegiatan penjagaan situs dari lantai 3 ke lantai 8 Gedung Kemenkominfo atas persetujuan Budi Arie. Hal itu agar praktik mereka tidak terendus.
Meski namanya tersebut dalam dakwaan, Budi Arie membantah keterlibatannya dalam kasus judi online saat pemeriksaan di Bareskrim Polri pada 19 Desember 2024. Ia menyatakan bahwa tuduhan tersebut adalah fitnah dan framing terhadapnya.