Bandar Lampung (Lampost.co): Delegasi Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC) Arab Saudi meninjau langsung pemanfaatan Teleskop Ofyar Z Tamin (OZT)–Astelco Lunar Telescope System (ALTS) di Institut Teknologi Sumatera (Itera). Pemerintah Arab Saudi menghibahkan teleskop tersebut dan Itera telah mengoperasikannya sejak 2021.
Dalam kunjungan itu, tim RCMC memberikan apresiasi kepada Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL). Hal itu karena berhasil mengoptimalkan penggunaan teleskop untuk pengamatan bulan. Melalui pemanfaatan tersebut, OAIL menghasilkan beragam data dan riset mutakhir di bidang astronomi. RCMC bahkan merencanakan keberhasilan Itera sebagai model pengembangan teleskop serupa di sejumlah wilayah, seperti Selandia Baru dan Hawai.
Delegasi RCMC dengan pimpinan Chief Program Management Officer, Saad Al Wabel, bersama tim ahli astronomi, menghadiri agenda kunjungan di Aula Gedung Training Center Itera, Senin, 9 Februari 2026. Tim mengisi agenda utama dengan diskusi mengenai pemanfaatan, pengembangan, serta keberlanjutan program teleskop OZT–ALTS di lingkungan Itera.
Acara tersebut menghadirkan Ahli Astronomi ITB sekaligus mantan Kepala OAIL Itera, Dr. Hakim L. Malasan, serta dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Itera, Dr. Robiatul Muztaba, sebagai narasumber. Sejumlah dosen Prodi Sains Atmosfer dan Keplanetan serta Sekretaris LPPM Itera juga mengikuti kegiatan tersebut.
Optimal
Saad Al Wabel menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan memastikan pelaksanaan program ilmiah Pemerintah Arab Saudi berjalan optimal. Tim RCMC melakukan evaluasi terhadap kondisi fasilitas, lingkungan operasional, dan keberlanjutan program agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas di tingkat global.
Saad mengapresiasi komitmen Itera dalam menjaga serta memanfaatkan fasilitas teleskop tersebut. Meski hingga kini kedua pihak belum menjalin kerja sama formal secara langsung. Ia menilai semangat keilmuan yang dibangun Itera menjadi modal penting dalam pengembangan kerja sama observatorium sebagai pusat kajian astronomi.
Ia menegaskan bahwa teleskop pengamatan bulan tidak hanya berfungsi untuk kepentingan keagamaan, seperti penentuan awal bulan hijriah, tetapi juga memiliki kekuatan besar dari sisi sains dan keilmuan. Menurutnya, integrasi ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan mampu memperkuat persatuan umat Islam serta mendorong kemajuan peradaban yang inklusif.
“Kami ingin mengembangkan kerja sama ini hingga ke tingkat tertinggi melalui pemikiran para ilmuwan dan keterampilan para ahli, agar kita memasuki era baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Saad.
Sementara itu, Dr. Hakim L. Malasan memaparkan sejarah awal program teleskop tersebut, termasuk penamaan Teleskop OZT dari nama rektor pertama Itera. Ia juga menjelaskan rencana pengembangan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperkuat peran observatorium dalam jejaring riset global.
Ia menambahkan, tim OAIL telah menghasilkan dan mengelola berbagai data serta riset astronomi yang kini menjadi sumber penting bagi kegiatan penelitian mahasiswa dan dosen Itera.







