Bandar Lampung (Lampost.co) — Kober (Komunitas Berkat Yakin) akan kembali mementaskan pertunjukan Hilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif di GTT Taman Budaya Provinsi Lampung, 15 dan 16 Februari 2026 pada pukul 16.00 WIB.
Sebelumnya, pertunjukan ini telah dipresentasikan oleh Kober dalam rangkaian Festival Teater Sumatera III, 24-25 September 2025 di GTT Taman Budaya Sriwijaya, Palembang.
Pertunjukan yang disutradarai oleh Ari Pahala Hutabarat ini memang berangkat dari refleksi mendalam tentang penyebab utama bencana alam dan krisis pangan yang terjadi di Sumatera dan Indonesia.
Ari Pahala Hutabarat mengatakan pertunjukan Hilang Huma(n) yang menyoroti dampak alih fungsi lahan ini berwatak argumentatif dan reflektif. Ia adalah sebentuk opini yang memiliki permainan tarik-ulur antara yang presentasi dan representasi, antara yang non-realis dan realis.
Aktor tidak menjelma menjadi karakter tertentu, tetapi menjadi dirinya sendiri sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan opini.
“Ada sedikit drama di dalamnya, termasuk komposisi musik dan koreografi. Tetapi yang paling penting adalah tersampaikannya opini secara maksimal,” ungkapnya.
Alih Fungsi Lahan
Alexander GB, salah satu aktor senior Kober, menyampaikan, pertunjukan Hilang Huma(n) adalah esai berisi opini yang mencoba ditubuhkan. Sebuah esai atau opini yang berangkat dari satu proposisi bahwa bencana ekologis dan krisis pangan di Sumatera dan Indonesia terjadi akibat alih fungsi lahan.
Esai performatif berdurasi satu jam ini memang akan membeberkan bagaimana alih fungsi lahan menjadi penyebab utama krisis pangan dan bencana alam di Indonesia.
Alih fungsi lahan secara masif, baik karena ekspansi industri, perkebunan monokultur, atau pembangunan infrastruktur, tidak hanya merusak lingkungan fisik. Tetapi juga menghapus ingatan ekologis dan teknologi lokal masyarakat.
“Akibatnya, kita menyaksikan percepatan krisis pangan dan erosi budaya dalam satu tarikan napas,” kata Alexander GB.
Sementara itu Yulizar Lubay, fiksionis dan aktor Kober lainnya juga menambahkan, para aktor atau performer bertugas sebaik-baiknya dalam menyampaikan pikiran utama atau opini dalam esai performatif ini.
“Menyampaikan dengan sebaik-baiknya opini bahwa alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, tambang, atau industri ekstraktif lainnya, termasuk food estate, telah mangganggu dan merusak arsip hidup kebudayaan agraris tradisional yang banyak bergantung pada hutan dan ladang,” tambahnya.
Lain dari itu, Yulizar juga mengatakan bahwa pertunjukan Hilang Huma(n) yang ditaja Kober ini mendapat dukungan dari banyak pihak, yaitu UPTD Taman Budaya Lampung, UKMBS Unila, dan KSS FKIP Unila.
“Kami berterima kasih kepada Taman Budaya Provinsi Lampung dan semua pihak yang telah membantu mewujudkan pementasan ini. Sampai jumpa di Taman Budaya Lampung, 15 dan 16 Februari 2026,” pungkasnya.







