Bandar Lampung (Lampost.co) — Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Lampung menegaskan penanganan penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak tidak cukup berfokus pada aspek medis.
Tetapi juga perlu menyentuh sisi psikologis serta sosial anak.
Ketua YJI Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, menyampaikan penegasan tersebut saat peringatan Congenital Heart Disease (CHD) Awareness Week 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung Klinik Pahlawan Medical Center (PMC), Bandar Lampung, Senin, 9 Februari 2026.
Purnama menjelaskan bahwa anak penyandang PJB sering menghadapi tantangan psikologis, termasuk perundungan lingkungan sekolah, yang berdampak besar terhadap kepercayaan diri serta proses tumbuh kembang anak.
“Kami menemukan anak yang memilih tidak bersekolah karena mengalami perundungan,” kata dia.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan penyakit jantung bawaan tidak hanya berkaitan dengan medis, tetapi juga menyangkut aspek psikologis,” lanjut dia.
Baca juga : Tingkatkan Edukasi Pencegahan Penyakit Jantung
Ia menekankan peran penting orang tua, guru, serta lingkungan sosial dalam menciptakan ruang aman dan suportif agar anak dengan kondisi jantung bawaan tetap mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dalam rangka CHD Awareness Week 2026, YJI Lampung menyelenggarakan pemeriksaan ekokardiografi gratis bagi anak usia 0 hingga 18 tahun serta menyampaikan edukasi kesehatan kepada orang tua dan masyarakat umum.
Ia menilai edukasi sebagai kunci utama untuk mencegah keterlambatan penanganan penyakit jantung bawaan yang masih sering terjadi.
Hal tersebut kebanyakan akibat minim pemahaman masyarakat terhadap gejala awal.
“Setiap anak berhak memperoleh kehidupan sehat, rasa aman, serta masa depan lebih baik. Semua pihak memikul tanggung jawab tersebut,” tegasnya.
YJI Lampung juga mengajak pemerintah daerah, komunitas, serta seluruh elemen masyarakat untuk membangun kepedulian bersama.
Demi menyelamatkan masa depan anak Indonesia melalui jantung yang lebih sehat.







