Bandar Lampung (Lampost.co)— Kanker usus besar (kolorektal) dapat di pengaruhi oleh pola makan. Beberapa jenis makanan dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker ini. Terutama jika mengkonsumsi dalam jumlah besar atau secara rutin. Berikut adalah 5 makanan yang sebaiknya kita hindari atau mengurangi untuk membantu mengurangi risiko kanker usus besar:
1. Daging Merah yang Diproses
- Contoh: sosis, bacon, ham, salami, dan daging asap.
- Daging olahan biasanya mengandung nitrit dan nitrat, yang dapat berubah menjadi senyawa karsinogenik dalam tubuh. Mengonsumsi daging olahan secara teratur dapat meningkatkan risiko kanker usus besar secara signifikan.
2. Daging Merah Berlemak
- Contoh: daging sapi, daging babi, domba, dan kambing.
- Daging merah yang kaya akan lemak jenuh dapat memicu peradangan dalam tubuh dan menyebabkan peningkatan risiko kanker. Lemak yang teroksidasi selama proses memasak pada suhu tinggi juga dapat memicu perubahan seluler yang berhubungan dengan kanker.
3. Makanan yang Digoreng
- Contoh: kentang goreng, keripik kentang, ayam goreng, dan makanan cepat saji.
- Proses penggorengan menghasilkan zat kimia seperti akrilamida, yang telah mengkaitkan dengan peningkatan risiko kanker, termasuk kanker usus besar. Selain itu, lemak trans yang sering menggunakan dalam penggorengan juga berbahaya bagi kesehatan.
4. Karbohidrat Olahan dan Gula Berlebih
- Contoh: roti putih, kue, permen, dan minuman manis.
- Karbohidrat olahan dan gula berlebih dapat memicu resistensi insulin, yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker. Pola makan tinggi gula juga dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk kanker kolorektal.
5. Alkohol
- Contoh: bir, anggur, dan minuman keras.
- Konsumsi alkohol berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Alkohol dapat menyebabkan peradangan pada usus dan memengaruhi kerja DNA, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko mutasi seluler yang berujung pada kanker.
Membatasi konsumsi makanan-makanan ini, serta menjaga pola makan yang kaya serat dari sayuran. Buah-buahan, dan biji-bijian utuh, dapat membantu mengurangi risiko penyakit tersebut.