Bandar Lampung (Lampost.co) — Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dinilai perlu mengambil peran lebih strategis dari pada sekadar menjadi usaha ritel di desa.
Pengamat ekonomi menilai koperasi desa harus kita arahkan menjadi agregator produk pangan dan UMKM agar mampu memperkuat rantai pasok hingga membuka akses ekspor.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira mengatakan, selama ini banyak produk pertanian dan usaha kreatif desa belum memiliki akses pasar yang kuat. Hal ini karena distribusi masih panjang dan tidak terintegrasi.
Menurutnya, kehadiran KDMP bisa menjadi solusi apabila koperasi fokus untuk menyerap hasil produksi masyarakat, mengonsolidasikan pasokan, lalu menyalurkannya ke pasar yang lebih luas.
“Kalau koperasi desa ingin bertahan, jangan hanya jadi warung. Peran paling penting justru menjadi agregator produk desa,” kata Bhima.
Ia menjelaskan, fungsi agregator dapat memperkuat posisi tawar petani dan pelaku UMKM karena produk tidak lagi terjual secara terpisah dalam skala kecil. Dengan sistem tersebut, koperasi dapat membantu menjaga stabilitas pasokan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
Bhima menilai pola itu juga membuka peluang produk desa masuk ke pasar ekspor.
Saat ini kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih relatif rendah, yakni sekitar 15 persen. Angka tersebut bisa meningkat apabila koperasi mampu menjadi penghubung antara produksi desa dan pasar nasional maupun global.
Selain itu, ia mengingatkan agar KDMP tidak bersaing langsung dengan warung rakyat yang sudah lebih dulu berjalan di desa. Fokus koperasi sebaiknya kita arahkan pada distribusi, pengolahan, hingga pemasaran hasil produksi masyarakat.
Kolaborasi dengan BUMN pangan juga penting untuk memperkuat fungsi tersebut. Bhima menyebut kerja sama dengan PT Agrinas Pangan Nusantara dan sejumlah BUMN dapat membantu pembiayaan, penyerapan hasil produksi, hingga pengembangan pasar ekspor.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update