• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Minggu, 25/01/2026 23:49
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Home Lampung

Ketika Bencana Tak Dianggap Nasional, Komunikasi Negara Ikut Mengecil

Bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar peristiwa alam.

Triyadi IsworobyTriyadi Isworo
26/12/25 - 05:50
in Lampung, Opini
A A
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Shofura Nur Adilah. Dok

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Shofura Nur Adilah. Dok

BENCANA banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah akumulasi dari kerusakan lingkungan yang berlangsung lama. Mulai dari hutan yang ditebang, daerah resapan yang hilang, dan ekspansi perkebunan sawit yang mengubah lanskap hidup masyarakat. Ketika hujan datang, alam tidak lagi mampu menahan air. Yang tersisa hanyalah lumpur, arus deras, dan rumah-rumah yang tak sempat diselamatkan.

Namun di tengah kondisi yang disebut warga sangat parah, pemerintah tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional. Secara administratif mungkin ada alasannya, tetapi dari sisi komunikasi publik, keputusan ini membawa dampak besar. Status bencana bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal pesan yang disampaikan negara kepada rakyatnya.

Ketika bencana tidak disebut sebagai bencana nasional, masyarakat menangkap pesan bahwa penderitaan mereka dianggap masih dalam batas “biasa”. Padahal, di lapangan, banyak wilayah masih terendam, akses terputus, dan warga hidup di pengungsian tanpa kepastian. Di sinilah jarak antara bahasa pemerintah dan kenyataan warga mulai terasa.

Di media sosial, warga Aceh justru lebih dulu menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Video rumah hanyut, kebun terendam, dan jalan desa tertutup longsor tersebar luas dan menjadi perhatian publik nasional. Sayangnya, narasi resmi pemerintah tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang dilihat masyarakat melalui unggahan tersebut. Akibatnya, publik bingung, jika kondisinya separah ini, mengapa tidak disebut sebagai bencana nasional?

Perspektif Ilmu Komunikasi

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, status bencana bukan sekadar istilah administratif. Ia adalah pesan simbolik yang sangat kuat. Ketika pemerintah tidak menyebut sebuah tragedi sebagai bencana nasional, pesan yang sampai ke publik terutama kepada korban adalah bahwa penderitaan mereka dianggap “masih bisa ditangani pada taraf biasa”. Padahal, di lapangan, banyak wilayah masih terendam, longsor masih mengancam, dan warga hidup dalam ketidakpastian.

Komunikasi krisis menuntut kepekaan terhadap realitas sosial dan psikologis korban, bukan hanya kalkulasi prosedural. Saat negara mengecilkan skala bencana dalam narasi resminya, empati publik ikut mengecil. Perhatian nasional pun cepat berpindah. Yang tertinggal adalah warga yang masih membersihkan lumpur, kehilangan mata pencaharian, dan menunggu kepastian yang tak kunjung datang.

Ironisnya, di era media sosial, warga Sumatera justru lebih dulu memperlihatkan skala bencana melalui video dan kesaksian langsung. Air setinggi dada, longsor yang menutup akses desa, kebun sawit yang menggantikan hutan, dan sungai yang meluap tanpa kendali. Konten-konten ini viral. Publik melihat. Namun narasi resmi negara tidak pernah benar-benar menyamai urgensi visual tersebut.

Dari sudut pandang komunikasi lingkungan, kondisi ini sangat problematik. Pemerintah cenderung memisahkan bencana dari penyebab strukturalnya. Penebangan hutan dan ekspansi sawit jarang disebut secara tegas dalam komunikasi resmi sebagai salah satu penyebab. Banjir seolah hanya disebabkan hujan ekstrem, bukan akibat keputusan pembangunan jangka panjang. Akibatnya, pesan yang diterima publik menjadi dangkal dan tidak edukatif.

Perlu Tanggungjawab

Komunikasi publik yang baik seharusnya tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa ini bisa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab. Ketika penyebab struktural tidak dikomunikasikan, negara kehilangan kesempatan membangun kesadaran ekologis dan kepercayaan publik. Lebih buruk lagi, masyarakat terdampak merasa realitas hidup mereka disederhanakan dalam bahasa birokrasi.

Tidak ditetapkannya bencana ini sebagai bencana nasional juga berdampak pada komunikasi bantuan. Tidak ada satu suara nasional yang konsisten. Tidak ada komunikasi terpadu yang menunjukkan bahwa negara hadir sepenuhnya. Dalam teori komunikasi krisis, ketiadaan pesan tunggal yang kuat adalah bentuk kegagalan komunikasi.

Saya melihat persoalan ini bukan hanya soal bantuan, kebijakan, atau anggaran, tetapi soal cara negara hadir lewat kata-kata dan sikapnya. Bahasa yang terlalu teknis dan kaku membuat jarak dengan warga yang sedang berduka. Dalam kondisi seperti ini, korban merasa tak didengar. Ketika penderitaan tidak diberi nama yang setimpal, rasa keadilan pun memudar. Masyarakat tidak hanya butuh bantuan fisik, tetapi juga pengakuan bahwa penderitaan mereka benar-benar dipahami.

Sumatera bukanlah wilayah baru dalam menghadapi bencana. Justru karena itu, negara seharusnya belajar bahwa pengakuan simbolik, melalui penetapan status, bahasa empatik, dan narasi yang jujur adalah bagian penting dari pemulihan. Mengakui bahwa ini adalah bencana nasional bukan hanya soal anggaran, tetapi soal keberpihakan moral.

Bencana ini sudah sangat parah. Bukan hanya karena air dan longsor, tetapi karena pesan yang sampai ke publik terasa mengecilkan kenyataan. Dalam komunikasi, apa yang tidak diucapkan sering kali lebih menyakitkan daripada apa yang diucapkan.

Jika negara ingin memulihkan, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya tanggul dan jalan, tetapi juga cara berbicara kepada rakyatnya. Karena dalam situasi krisis, komunikasi yang jujur dan empatik adalah bentuk kehadiran negara yang paling nyata. (*)

Shofura Nur Adilah
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung

Tags: AcehBENCANADosen Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikHutan.Ilegal Loggingkerusakan lingkunganOpiniPembalakanPulau SumateraShofura Nur AdilahSumatera BaratSumatera UtaraUniversitas Lampung
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Pemkab Lampung Timur Apresiasi Perhatian Presiden Terhadap Konflik Manusia dan Gajah

Pemkab Lampung Timur Apresiasi Perhatian Presiden Terhadap Konflik Manusia dan Gajah

byRicky Marlyand1 others
25/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Timur menyampaikan apresiasi tinggi atas perhatian serius Presiden terhadap persoalan konflik antara...

Way Kambas Disiapkan Tanggul Permanen dan Kesejahteraan MMP Turut Didorong

Way Kambas Disiapkan Tanggul Permanen dan Kesejahteraan MMP Turut Didorong

byRicky Marlyand1 others
25/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah pusat dan daerah terus mematangkan penataan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Langkah ini sebagai...

Modal Alam Lampung Berpeluang Masuk Perdagangan Karbon

Modal Alam Lampung Berpeluang Masuk Perdagangan Karbon

byAtikaand1 others
25/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Akademisi Universitas Lampung (Unila) Saring Suhendro menilai Lampung memiliki modal alam yang relatif kuat untuk masuk...

Berita Terbaru

Pemkab Lampung Timur Apresiasi Perhatian Presiden Terhadap Konflik Manusia dan Gajah
Humaniora

Pemkab Lampung Timur Apresiasi Perhatian Presiden Terhadap Konflik Manusia dan Gajah

byRicky Marlyand1 others
25/01/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Timur menyampaikan apresiasi tinggi atas perhatian serius Presiden terhadap persoalan konflik antara...

Read moreDetails
Vaksinasi

Cegah Penularan Super Flu, Pemprov Sediakan Vaksinasi di Faskes

25/01/2026
Ilustrasi (MI)

Vaksinasi Rutin-Prokes Agar Terhindar dari Superflu

25/01/2026
Ilustrasi

Pakar Ungkap Superflu Sebagai Mutasi Virus H3N2

25/01/2026
Ilustrasi

Pemerintah Antisipasi Superflu-Lonjakan DBD

25/01/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.