Bandar Lampung (Lampost.co): Kalangan mahasiswa menjadikan pemaparan visi dan misi lima Bakal Calon (Bacalon) Rektor sebagai momentum penting untuk menagih janji dan komitmen nyata. Mahasiswa secara blak-blakan menyuarakan sederet masalah riil di lapangan, bukan sekadar janji manis akademik.
Masalah tersebut mulai dari minimnya fasilitas dasar, rumitnya birokrasi, hingga krisis transparansi penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Salah satu perwakilan mahasiswa dari Program Studi Rekayasa Kosmetik, Angelica Margareth, mengungkapkan hal tersebut seusai menghadiri agenda pemaparan calon rektor.
Angelica menyoroti banyak kebutuhan mendasar mahasiswa yang selama ini luput dari perhatian pihak rektorat.Mahasiswa pertama kali mengeluhkan minimnya fasilitas penunjang kenyamanan mahasiswa, bahkan untuk hal yang terkesan sepele seperti tempat penitipan helm.
“Contoh kecil saja soal helm. Kampus menerapkan kebijakan wajib helm, tapi kampus tidak menyediakan fasilitas penyimpanannya. Mahasiswa yang menumpang motor teman pun terpaksa menenteng helm ke mana-mana, sampai ke dalam gedung. Penataannya jadi berantakan karena kampus memang tidak memfasilitasi,” kata dia.
Mahasiswa juga menyoroti rumitnya birokrasi kampus selain urusan fasilitas fisik. Organisasi Mahasiswa (Ormawa) kerap mengalami dampak dari lambatnya pencairan dana kegiatan. Kampus menuntut mahasiswa memenuhi berbagai syarat administratif yang ketat, namun kampus justru kerap menyendat dukungan dana untuk keberlangsungan Ormawa.
Mahasiswa paling menyoroti tajam isu penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Mahasiswa menilai kampus belum mewujudkan ruang aman dan masih menjadikan ruang aman sebagai angan-angan. Pihak kampus memang telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kekerasan Seksual, tetapi mahasiswa menilai kinerjanya belum memberikan dampak yang signifikan bagi rasa aman mahasiswa.
“Lingkungan kampus yang aman sekarang jadi isu yang sangat besar karena banyak kasus pelecehan seksual yang belum terselesaikan dengan baik. Memang sudah ada Satgas, tapi kami belum merasakan dampaknya. Kampus tidak menunjukkan transparansi tindakan terhadap pelaku, kejelasannya seperti apa, kami tidak tahu,” tegasnya.
Mahasiswi dari prodi baru, Rekayasa Kosmetik, ini mengeluhkan minimnya fasilitas laboratorium dari sisi akademik.Keterbatasan alat penunjang dan pembatasan jam operasional laboratorium sangat menghambat mahasiswa yang ingin melakukan penelitian atau formulasi produk. Bahkan, kampus menerapkan birokrasi yang terlalu berbelit-belit untuk peminjaman laboratorium, sehingga mahasiswa tidak bisa memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal.
Angelica menilai para calon belum memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan ketika menjawab pertanyaan mengenai komitmen dari kelima calon rektor terkait tuntutan-tuntutan tersebut, khususnya terkait isu pelecehan seksual.
“Para calon memang sudah sempat menyinggung dan menjawab masalah fasilitas dan birokrasi. Tapi untuk isu pelecehan seksual, tadi salah satu calon, Pak Aslan, memang menyinggung keberadaan Satgas, namun beliau belum bisa menjawab tuntutan kami mengenai transparansi dan optimalisasi kinerjanya,” jelasnya.
Perwakilan mahasiswa tersebut mengaku belum memiliki pandangan spesifik mengenai siapa calon yang paling layak memimpin kampus hingga saat ini. Namun, ia menaruh harapan besar agar siapapun rektor yang terpilih nantinya benar-benar merepresentasikan kepentingan mahasiswa dan menyelesaikan permasalahan nyata yang mahasiswa hadapi setiap harinya.
“Saya belum terbayang siapa yang akan terpilih, tapi harapannya, siapapun itu, bisa benar-benar merepresentasikan dan menjawab kebutuhan kami para mahasiswa,” pungkasnya.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update