Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama Forum Investasi Lampung (Foila) menggelar Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) 2025 di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta, baru-baru ini.
Dalam ajang bergengsi tersebut, Pemprov Lampung menampilkan 11 proyek investasi unggulan yang siap ditawarkan kepada para calon
investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Proyek-proyek tersebut meliputi Kemiling Agropark Development Plan, Bakauheni Harbour City, Floating Solar Power Plant, Starch Amilum, Excipients in Medication Formula, dan Kota Baru Area.
Kemudian Sebalang Port, Betan Subing Terminal & Double Track Railway, Batu Tumpang Tourism, Rajabasa Dharmacity, Way Kanan Industrial Park, hingga Gunung Tiga Geothermal Power Plant.
Baca Juga:
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, tingginya antusiasme
investor yang hadir di forum tersebut menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Undangan yang hadir cukup banyak, ini menunjukkan semangat para pengusaha untuk berinvestasi di Lampung. Apalagi jika melihat data, kebutuhan investasi di Lampung memang sangat besar,” ujar Mirza.
Dalam forum tersebut, Pemprov Lampung memperkenalkan potensi besar daerah di sektor pertanian, energi, dan industri hijau.
Sektor Hilirisasi
Mirza menekankan bahwa Lampung memiliki banyak komoditas unggulan. Namun masih perlu memperkuat sektor hilirisasi agar nilai tambah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita memiliki banyak komoditas, tapi industri hilir masih terbatas. Banyak investor yang tertarik pada energi hijau, seperti pengembangan etanol dan solar shell. Bahkan, beberapa perusahaan luar negeri akan segera melakukan survei ke Lampung,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah negara Eropa mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengambil langsung produk unggulan Lampung, seperti kopi dan cokelat tanpa melalui pihak ketiga.
“Selama ini mereka membeli lewat pihak ketiga, namun ke depan akan langsung mengambil dari Lampung. Ini berarti kita dorong agar tidak lagi menjual barang mentah. Tetapi membangun pabrik di Lampung agar harga produk lebih stabil,” tegas Mirza.
Selain itu, Gubernur juga menyoroti pentingnya diversifikasi produk turunan dari jagung dan singkong, terutama untuk mendukung pengembangan etanol.
Upaya ini akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani serta memperkuat industri lokal.
“Kita punya suplai komoditas yang melimpah, ini yang menarik bagi investor. Dari sisi kapasitas produksi, Lampung sangat siap untuk industrialisasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mirza menjelaskan bahwa investasi memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi Lampung, setiap investasi senilai Rp1 triliun dapat membuka sekitar 2.000 lapangan pekerjaan baru.
“Kalau tahun ini kita bisa menarik investasi Rp12 triliun, artinya akan ada sekitar 24 ribu lapangan kerja baru. Karena itu saya tegaskan, setiap investasi di Lampung harus memprioritaskan tenaga kerja lokal,” tegasnya.
Melalui ajang LEIF 2025, Pemprov Lampung berharap dapat menarik lebih banyak investasi strategis yang berorientasi pada hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk lokal. Sehingga pertumbuhan ekonomi daerah dapat meningkat secara berkelanjutan dan inklusif.