Kisah sukses mahasiswi Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) sebagai Kampus Terbaik di Lampung terus menginspirasi dan merambah berbagai bidang termasuk di dunia olah raga yakni sepakbola wanita. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika ada proyek mini dokumenter yang menyoroti kisah sukses mahasiswi Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Lampung, Berlyan Asya Pertiwi, seorang pelatih/atlet wanita berprestasi yang terpilih menerima beasiswa FIFA Coach Education Scholarship melalui PSSI. Dokumenter ini menginspirasi lewat dedikasi Asya dari sepak bola kampus hingga level nasional.
Menurut Asya, tanggung jawab menjadi pelatih besar. Sebab ia harus menjadi motivator utama yang memancarkan energi positif.
“Kesan yang muncul adalah beban sekaligus kehormatan untuk membentuk pola pikir tim agar selalu berprestasi, disiplin, dan pantang menyerah,” katanya melalui keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.
Asya melanjutkan pelatih tidak hanya mengajar teknik, tetapi juga berperan sebagai mentor.
“Ada kepuasan batin saat berhasil membangun hubungan yang kuat dengan pemain, membimbing mereka saat cedera, atau membantu mereka berkembang sebagai individu di dalam maupun di luar lapangan,” ujarnya.
Selain itu, menjadi pelatih juga harus menuntut dedikasi total dan komitmen yang tinggi. Kemudian, belajar kesabaran dan pertumbuhan diri.
“Pengalaman melatih mengajarkan kesabaran, kedewasaan, dan pertumbuhan pribadi, apalagi kalau melatih anak” usia U9-U13 itu harus banyak sabarnya.”
Terakhir, Asya menambahkan bahwa menjadi pelatih dituntut untuk memahami taktik, aturan, dan perkembangan terbaru, yang seringkali menghadirkan tekanan tinggi, terutama saat harus menghadapi situasi kritis di lapangan.
Adapun dalam Surat Tugas Nomor : 782 /UDN/488/11-2026 tertanggal 27 Februari 2026 yang ditandatangani Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, di Jakarta tertera pertimbangan dalam rangka program kerja sama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan FIFA dalam Program Coach Education Scholarship untuk Pelatih Perempuan Berjenjang dari Lisensi D hingga Lisensi A, dan sebagai laporan hasil kegiatan atas keberhasilan dari program sebelumnya maka dibuatlah mini dokumenter.
Di sisi lain, dasar Pembuatan Mini Dokumenter atas kisah sukses pelatih Wanita Sepakbola adalah dari pemberian beasiswa FIFA Coach Education Scholarship pada PSSI.
Selanjutnya, menugaskan sejumlah pelatih wanita diantaranya Zahra Naggiya (Female Coach), Vina Garsina (Female Coach), Riska Noor Aprillia (Female Coach), dan Annice Anthoni (Female Coach). Kemudian, Siti Novitasari (Female Coach), Endang Sri Wahyuningsih (Female Coach), dan Endang Wahyuni (Female Coach). Mereka bertugas sebagai narasumber untuk pembuatan Dokumenter Perjalanan Coaches Lisensi D FIFA.
Adapun lokasi tugas pada 4- 7 Maret 2026 di Kota Bandung, 7-10 Maret 2026 di Kota Manado, dan 3-4 April 2026 di Kota Bandar Lampung. Mereka juga mesti melaksanakan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab. Untuk pembiayaan, semua biaya yang timbul ditanggung oleh FIFA Women Football Development. Terakhir, melaporkan hasil pelaksanaan tugas tersebut kepada PSSI via Sekretaris Jenderal PSSI.
Adapun Universitas Teknokrat Indonesia mengusung konsep Kampus Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan (KIBB) menekankan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang kreatif, relevan, dan berwawasan lingkungan. Kampus fokus pada penelitian aplikatif, pemecahan masalah masyarakat (sosial, ekonomi, teknologi), serta menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian, seperti yang diterapkan di Universitas Teknokrat Indonesia dan inisiatif Kampus Berdampak Kemdiktisaintek. Program ini merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka yang bertujuan agar perguruan tinggi menjadi pusat solusi bagi permasalahan kompleks di masyarakat.










