Bandar Lampung (Lampost.co)- Di sebuah bengkel praktik semi terbuka milik Universitas Teknokrat Indonesia, pemandangan tak biasa menarik perhatian. Tumpukan pasir dan semen kini berpadu dengan limbah plastik, kertas, hingga sisa material bangunan.
Tiga mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2022, yakni Selvia Catur Wahyuni, Danang Ardi Syahputra, dan Erwin Hidaya, mengubah bahan-bahan yang kerap dianggap sampah itu menjadi paving blok ramah lingkungan. Mereka menamai inovasi tersebut Tekno Plasting.
Baca juga:
Di bawah bimbingan dosen mereka, Dr. Lilik Ariyanto, mahasiswa ini mencetak paving blok berbentuk huruf “T”, simbol identitas kampus. Namun lebih dari sekadar bentuk unik, produk ini membawa pesan kuat: limbah bisa bernilai jika diolah dengan tepat.
Selvia menjelaskan, Tekno Plasting lahir dari kegelisahan melihat persoalan sampah yang terus meningkat. Ia dan tim sengaja keluar dari pola konvensional dengan menjadikan limbah sebagai bahan utama campuran paving blok.
“Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah masih punya nilai guna dan bisa membantu mengurangi beban lingkungan,” ujarnya.
Tak hanya ramah lingkungan, tim juga memastikan kualitas produk tetap memenuhi standar konstruksi. Mereka menguji kekuatan paving blok di laboratorium menggunakan alat uji kuat tekan, sehingga hasilnya tidak hanya inovatif, tetapi juga layak digunakan secara teknis.
Dosen pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Teknik Sipil, Dr. Lilik Ariyanto, menegaskan bahwa proses pengembangan dilakukan secara sistematis, mulai dari pemilihan material hingga pengujian mutu.
“Inovasi ini tidak berhenti di ide. Kami pastikan produk yang dihasilkan bisa diaplikasikan di dunia konstruksi,” jelasnya.
Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer melihat Tekno Plasting sebagai peluang besar, bukan hanya proyek mahasiswa. Dekan FTIK, Dr. Dedi Darwis, menyebut inovasi ini berpotensi menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus berdampak pada pengelolaan lingkungan.
“Kami dorong agar inovasi ini berkembang melalui center of excellence, bahkan hingga tahap paten dan kolaborasi dengan industri maupun pemerintah,” katanya.
Dukungan juga datang dari pimpinan universitas. Wakil Rektor, Dr. Mahathir Muhammad, menilai Tekno Plasting sebagai bukti nyata peran mahasiswa dalam menjawab tantangan global, khususnya isu lingkungan.
Menurutnya, inovasi ini sejalan dengan komitmen kampus dalam mendukung <span;>Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek pendidikan berkualitas dan pertumbuhan ekonomi melalui kewirausahaan mahasiswa.
Kini, Tekno Plasting tidak hanya menjadi hasil eksperimen di kampus. Inovasi ini membuka harapan baru: limbah yang selama ini menjadi masalah, bisa berubah menjadi solusi.
Dari sudut bengkel sederhana itu, para mahasiswa membuktikan satu hal, yakni perubahan besar bisa dimulai dari hal yang sering kita anggap sepele.
Universitas Teknokrat Indonesia juga terus membuka kesempatan bagi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi diri. Bagi calon mahasiswa yang ingin bergabung dan meraih prestasi seperti para mahasiswa Teknokrat, pendaftaran mahasiswa baru dapat dilakukan melalui laman spmb.teknokrat.ac.id. Universitas Teknokrat Indonesia dikenal sebagai PTS terbaik di ASEAN yang konsisten melahirkan lulusan berprestasi dan berdaya saing global.
Adapun Universitas Teknokrat Indonesia mengusung konsep Kampus Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan (KIBB) menekankan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang kreatif, relevan, dan berwawasan lingkungan. Kampus fokus pada penelitian aplikatif, pemecahan masalah masyarakat (sosial, ekonomi, teknologi), serta menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian, seperti yang diterapkan di Universitas Teknokrat Indonesia dan inisiatif Kampus Berdampak Kemdiktisaintek. Program ini merupakan kelanjutan dari Kampus Merdeka yang bertujuan agar perguruan tinggi menjadi pusat solusi bagi permasalahan kompleks di masyarakat.










