Jakarta (Lampost.co) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim pada 2026 akan berbeda dari biasanya. Curah hujan pada musim kemarau sepanjang 2026 bisa lebih rendah daripada rata-rata 30 tahun terakhir.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan langsung proyeksi tersebut. Kondisi itu menjadi sinyal penting bagi berbagai sektor, terutama pertanian dan lingkungan.
“Hujan rata-rata di bawah normal dari musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun itu akan lebih rendah,” ujarnya.
Kemarau Datang Lebih Cepat dan Lebih Lama
BMKG juga memprediksi musim kemarau akan dimulai lebih awal dari biasanya. Kemarau diperkirakan mulai terjadi pada April atau Mei di sebagian besar wilayah Indonesia. “Kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang,” kata Faisal.
Ia menjelaskan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. Setelah itu, musim kering berakhir pada September atau awal Oktober. Durasi yang lebih panjang itu berpotensi meningkatkan risiko kekeringan.
Pengaruh Fenomena El Nino
BMKG terus memantau perkembangan fenomena iklim global, termasuk El Nino. Saat ini, El Nino berada pada level lemah hingga moderat.
Kondisi tersebut tetap memberi pengaruh terhadap pola cuaca di Indonesia. Meski tidak ekstrem, dampaknya bisa memperkuat musim kemarau yang lebih kering.
Kebakaran Hutan dan Lahan
Musim kemarau panjang sering berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah menggandeng berbagai pihak.
Salah satunya adalah kerja sama antara BMKG dan Kementerian Kehutanan. Fokus utama mereka adalah menekan potensi kebakaran sejak dini.
Strategi Rewetting dan Operasi Modifikasi Cuaca
BMKG menyiapkan langkah preventif melalui teknik pembasahan kembali lahan gambut atau rewetting. Upaya itu dengan memanfaatkan Operasi Modifikasi Cuaca. “Kami melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika masih ada awan yang bisa disemai,” jelas Faisal.
Metode itu membuat hujan buatan mampu menjaga kelembapan lahan. Langkah itu penting untuk mengurangi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Curah hujan 2026 ini yang lebih rendah dapat memengaruhi banyak sektor. Pertanian berisiko mengalami penurunan produksi akibat kekurangan air.
Selain itu, ketersediaan air bersih juga bisa terdampak di beberapa wilayah. Untuk itu, masyarakat perlu mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.









