Jakarta (Lampost.co) — Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan 40 tokoh organisasi Islam di Istana Negara pada Selasa (3/2/2026). Pertemuan itu fokus membahas peran aktif Indonesia dalam mendorong perdamaian Palestina, khususnya di Gaza.
Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan Presiden Prabowo memaparkan perkembangan terbaru upaya diplomasi Indonesia terkait Palestina. Diskusi juga mencakup dinamika geopolitik global serta kondisi ekonomi dunia yang memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Mengenai perkembangan terakhir, khususnya upaya Indonesia untuk ikut berperan dalam proses perdamaian Palestina,” ujar Sugiono usai pertemuan.
Dalam dialog yang berlangsung selama empat jam, Presiden juga menjelaskan posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Keanggotaan Indonesia di forum tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah kalangan, termasuk organisasi Islam.
Dia menegaskan keikutsertaan Indonesia di BoP tidak menyimpang dari sikap politik luar negeri Indonesia. Pemerintah tetap menempatkan kemerdekaan Palestina sebagai tujuan utama diplomasi.
“Kompasnya jelas, yaitu solusi dua negara atau Two State Solution. Presiden juga menjelaskan batasan peran Indonesia, termasuk jika suatu saat mengirim pasukan ke Gaza,” kata Sugiono.
Dalam pertemuan itu, pemerintah turut mengecam serangan Israel yang masih berlangsung di Jalur Gaza. Indonesia terus mendorong gencatan senjata dan perlindungan warga sipil.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyebut para tokoh agama mendapatkan penjelasan langsung dari Presiden Prabowo. Presiden menekankan perlunya pertimbangan realistis tanpa mengurangi komitmen membela Palestina.
Menurut Gus Yahya, keputusan Indonesia bergabung dalam BoP merupakan bagian dari strategi kolektif negara-negara yang ingin membantu Palestina secara konkret.
“Langkah-langkah di dalam dewan itu akan dikonsolidasikan negara-negara yang memang berniat membela Palestina,” ujar Gus Yahya.
Ia menambahkan Presiden memastikan seluruh kebijakan pemerintah tetap berpijak pada prinsip kewaspadaan dan keberpihakan terhadap rakyat Palestina.
Opsi Strategis untuk Palestina
Senada, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut Presiden menjabarkan berbagai opsi strategis yang dapat Indonesia ambil dalam isu kemanusiaan Gaza. “Ini persoalan kemanusiaan. Indonesia tidak sendiri, ada delapan negara lain, mayoritas berpenduduk muslim,” kata Gus Ipul.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, mengungkapkan adanya pembahasan terkait kemungkinan Indonesia keluar dari BoP. Menurutnya, Presiden membuka ruang evaluasi jika keanggotaan tersebut tidak sejalan dengan aspirasi publik. “Kalau tidak bisa memberi pengaruh dari dalam, Presiden siap keluar dari BoP,” ujar Cholil.
Sugiono membenarkan pernyataan tersebut. Ia menegaskan pemerintah tidak akan ragu mengambil langkah tegas jika keanggotaan Indonesia di BoP menjauh dari tujuan utama.
“Tujuan kami jelas, perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina. Kalau tidak sesuai, tentu akan ada evaluasi,” katanya.








