Bandar Lampung (Lampost.co) — Perjalanan Ole Romeny menuju Timnas Indonesia tidak terjadi secara instan. Proses itu berawal dari sebuah berita sederhana.
Penyerang Oxford United tersebut kini menjadi salah satu wajah baru skuad Garuda. Keputusannya menarik perhatian publik nasional.
Ole Romeny resmi menjadi warga negara Indonesia pada 8 Februari 2025. Ia mengucapkan sumpah kewarganegaraan di London. Proses itu ia jalani bersama Tim Geypens dan Dion Markx. Ketiganya masuk proyek diaspora PSSI era Erick Thohir.
Berawal dari Sebuah Berita Media
Minat Ole Romeny membela Indonesia muncul setelah membaca pemberitaan media Eropa. Artikel itu menyebut namanya memenuhi syarat.
Seorang jurnalis menulis Ole Romeny bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Berita itu menyebar dengan cepat. Ole Romeny mengaku terkejut saat membaca kabar tersebut.
Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Kemudian, PSSI langsung menghubunginya. Komunikasi awal pun terjalin secara intens.
Ole Romeny awalnya ragu dengan status kelayakannya. Ia lalu bertanya langsung kepada sang ibu. Ibunya kemudian menelusuri silsilah keluarga. Pencarian itu mengarah pada sang nenek.
Nenek Ole Romeny bernama Helene Wilhemina Romenij. Ia lahir di Medan pada 2 April 1923.
Ibunya menemukan akta kelahiran sang nenek. Dokumen itu menjadi bukti sah jalur naturalisasi. Ole Romeny merupakan generasi ketiga. Status itu memberinya hak membela tanah leluhurnya.
Ikatan Emosional dengan Indonesia
Ole Romeny mengaku sering mendengar cerita Indonesia dari sang nenek. Kisah itu melekat sejak kecil. Sang nenek selalu menganggap dirinya orang Indonesia.
Meski menetap lama di Belanda, identitas itu tidak luntur. Cerita tentang Sumatra membuat Ole Romeny penasaran. Ia jatuh cinta bahkan sebelum menginjakkan kaki.
Debut di Timnas dan Magis Stadion GBK
Ole Romeny menjalani debut Timnas Indonesia pada 20 Maret 2025. Ia tampil melawan Australia. Atmosfer Stadion Gelora Bung Karno langsung membuatnya terpukau. Ia merasakan energi yang belum pernah ia alami.
Menurut Ole Romeny, suasana GBK terasa jauh lebih besar dari Stadion De Kuip. Tekanan dan dukungan menyatu. Ia mencetak gol debutnya saat melawan Bahrain.
Momen itu membuatnya bergetar. Ole Romeny mengoleksi tiga gol dari enam laga awal. Kontribusinya langsung terasa.
Selain itu, Ole Romeny menyebut keputusan membela Indonesia sebagai pilihan hidup. Ia merasa berada di tempat yang tepat. Energi suporter, sejarah keluarga, dan ambisi tim menjadi satu kesatuan.
Ia ingin terus berkembang bersama Garuda. Perjalanan Ole Romeny juga menjadi bukti kuatnya proyek diaspora Timnas Indonesia. Kisah itu baru saja dimulai.








