Bandar Lampung (lampost.co)–Penentuan awal Ramadan setiap tahun sering kali menjadi topik pembahasan karena tidak semua negara memulai puasa pada hari yang sama. Perbedaan ini juga terjadi pada Ramadan 2025, di mana Indonesia menetapkan 1 Ramadan pada Sabtu, 1 Maret 2025, sedangkan Malaysia, Singapura, dan Brunei mulai puasa pada Minggu, 2 Maret 2025.
Lantas, apa yang menyebabkan perbedaan ini? Berikut penjelasannya.
1. Metode Penentuan Hilal yang Berbeda
Dalam Islam, awal Ramadan ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit baru) setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Syaban. Namun, cara menentukan keberadaan hilal bisa berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.
Secara umum, ada dua metode yang digunakan:
- Metode Rukyat (Pengamatan Langsung) – Melalui pemantauan langsung bulan sabit baru dengan mata telanjang atau teleskop di berbagai titik pemantauan.
- Metode Hisab (Perhitungan Astronomi) – Menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal, meskipun tidak harus terlihat secara langsung.
Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei menggunakan metode imkanur rukyat oleh MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Dalam metode ini, hilal dapat terlihat jika mencapai ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
2. Faktor Geografis dan Cuaca
Perbedaan lokasi geografis juga memengaruhi visibilitas hilal. Misalnya, di wilayah dengan kondisi atmosfer yang lebih bersih, kemungkinan hilal dapat terlihat lebih besar dibandingkan daerah yang tertutup awan atau polusi cahaya.
Pada Ramadan 2025, pemerintah Singapura dan Malaysia melaporkan bahwa hilal tidak terlihat di cakrawala mereka saat matahari terbenam pada 28 Februari 2025, sehingga awal Ramadan baru dimulai pada 2 Maret 2025.
3. Perbedaan Interpretasi Otoritas Agama
Setiap negara memiliki otoritas agama resmi yang bertanggung jawab dalam menetapkan awal bulan Ramadan. Otoritas ini mempertimbangkan hasil rukyat serta metode hisab sebelum mengumumkan keputusan final.
Sebagai contoh:
- Indonesia – Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk memutuskan awal Ramadan berdasarkan rukyat dan hisab.
- Malaysia – Hasil pengamatan hilal dari 29 titik pemantauan sebagai dasar keputusan.
- Singapura & Brunei – Berdasarkan hasil rukyat dan hisab nasional, puasa sehari setelah Indonesia.
Meskipun sama-sama menggunakan metode imkanur rukyat, perbedaan hasil pengamatan dan penafsiran dapat menyebabkan keputusan yang berbeda.
4. Perbedaan Kalender Hijriah Antar Negara
Kalender Islam berbasis peredaran bulan, tetapi tidak semua negara menggunakan sistem kalender yang sama. Ada yang menggunakan kalender global, sementara yang lain mengandalkan kalender lokal berdasarkan pengamatan hilal di negara masing-masing.
Sebagai contoh, Arab Saudi sering kali menetapkan awal Ramadan berbeda dari negara-negara Asia Tenggara karena menggunakan metode Ummul Qura, yaitu kalender berbasis perhitungan astronomi tanpa perlu rukyat langsung.
Perbedaan awal puasa Ramadan antara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei terjadi karena berbagai faktor, mulai dari metode rukyat dan hisab, kondisi geografis, hingga interpretasi otoritas agama di masing-masing negara.
Meskipun berbeda, umat Islam dianjurkan untuk mengikuti keputusan pemerintah setempat guna menjaga persatuan dan kekhusyukan ibadah Ramadan.








