Bandar Lampung (Lampost.co) — Beberapa bocoran terbaru mengungkap bahwa harga Call of Duty Black Ops 7 diperkirakan mencapai US$70 untuk edisi standar. Jika dikonversi ke rupiah, ini sekitar Rp1,1 juta, belum termasuk Vault Edition yang bisa menembus Rp1,6 juta. Angka ini menegaskan tren baru dalam industri game AAA, di mana harga rilis utama tidak lagi US$60 seperti dulu, melainkan naik menjadi US$70.
Apa Arti Harga US$70 untuk Gamer?
Harga US$70 memang terdengar tinggi, tapi di balik angka itu ada alasan kuat. Call of Duty bukan sekadar game shooter biasa, melainkan paket lengkap: campaign sinematik, multiplayer kompetitif, dan mode zombie yang menjadi ciri khas. Mengembangkan tiga pengalaman berbeda sekaligus jelas memerlukan biaya besar, sehingga harga rilisnya masuk akal dari sisi bisnis.
Namun, gamer modern lebih kritis. Mereka menilai bukan hanya nominal harga, tetapi juga nilai pengalaman. Kalau campaign atau mode multiplayer terasa terlalu mirip versi sebelumnya, US$70 bisa dianggap terlalu mahal.
Game Pass: Alternatif Hemat
Salah satu faktor penting adalah Xbox Game Pass. Jika Black Ops 7 tersedia di layanan ini sejak hari pertama, gamer bisa menikmati game tanpa membayar harga penuh. Model langganan ini mengubah persepsi harga: US$70 menjadi opsional, bukan kewajiban.
Bagi gamer yang ingin ikut hype di minggu pertama, Game Pass lebih praktis. Sedangkan bagi penggemar garis keras atau kolektor, membeli edisi penuh tetap menjadi pilihan.
Vault Edition: Strategi Monetisasi Eksklusif
Selain edisi standar, Activision kemungkinan menghadirkan Vault Edition dengan harga sekitar US$100. Biasanya, edisi ini menawarkan skin eksklusif, senjata unik, dan akses awal. Strategi ini ditujukan pada segmen “whale”—gamer yang rela membayar lebih demi konten eksklusif.
Mayoritas gamer mungkin tidak membutuhkan Vault Edition, tapi bagi penggemar setia, ini menjadi cara untuk tampil beda dan mendapatkan pengalaman lebih lengkap.
Reaksi Komunitas
Di forum online, reaksi gamer beragam. Ada yang mengeluh harga US$70 terlalu tinggi, ada yang memilih menunggu diskon, dan sebagian lain tetap membayar penuh untuk ikut hype. Fenomena ini mirip konser musik: walau tiket mahal, penggemar tetap ingin hadir di momen penting.
Call of Duty sudah mencapai status itu—lebih dari sekadar game, tapi bagian dari tradisi tahunan komunitas gamer.
Dampak untuk Gamer Indonesia
Bagi gamer di Indonesia, harga standar US$70 jelas lebih terasa. Dengan nilai sekitar Rp1,1 juta, banyak gamer lebih memilih opsi hemat: menunggu diskon, membeli lewat regional store yang lebih murah, atau berlangganan Game Pass.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana gamer lokal menyesuaikan diri dengan harga global tanpa kehilangan akses ke game populer.
Lebih dari Sekadar Nominal
Harga Call of Duty Black Ops 7 bukan sekadar angka. Ini mencerminkan perubahan budaya gaming: dari kepemilikan fisik atau digital menuju akses dan pengalaman. Gamer kini lebih menilai kesempatan bermain, ikut hype, dan bagian dari komunitas, daripada sekadar punya gamenya.
Dengan rilis yang semakin dekat, keputusan gamer tetap sama: membeli versi penuh atau memanfaatkan Game Pass. Harga tinggi hanyalah salah satu faktor dalam cerita besar Black Ops 7.








