Jakarta (Lampost.co)— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi mendadak.
Hal ini langsung memicu kekhawatiran di pasar global khususnya sektor energi. Langkah tersebut menilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya bisa berdampak langsung terhadap harga bahan bakar. Inflasi, dan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
Minyak merupakan komoditas strategis bagi perekonomian AS karena berpengaruh besar terhadap biaya transportasi. Harga barang konsumsi, serta tingkat inflasi yang menjadi perhatian utama Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Baca juga: Harga Melonjak Inflasi Lampung Diklaim Terkendali
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/1/2026), harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$ 60,75 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di US$ 57,32 per barel. Namun, analis memperkirakan harga tersebut berpotensi bergerak naik seiring meningkatnya risiko geopolitik.
Situasi Pasar Global
Situasi pasar energi sebenarnya telah tertekan sejak Desember 2025. Ketika pemerintahan Trump memberlakukan blokade terhadap kapal tanker minyak yang keluar dan masuk Venezuela.
Selain itu, Amerika Serikat juga menyita dua kargo minyak mentah asal negara tersebut. Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap ekspor Venezuela yang memperkirakan turun hampir setengahnya. Dari sekitar 950.000 barel per hari (bpd) menjadi jauh di bawah angka tersebut.
Kepala Ahli Strategi Ekonomi Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai respons pasar terhadap peristiwa ini akan terjadi dengan cepat, terutama di sektor minyak dan energi.
“Mengingat betapa cepat dan mendadaknya perkembangan ini, pasar minyak kemungkinan menjadi pasar pertama yang bereaksi,” ujar Jacobsen seperti mengutip dari Techstock2, Minggu (4/1/2026).
Kenaikan Harga Minyak
Jika kenaikan harga minyak berlanjut, dampaknya bisa merasakan langsung oleh masyarakat AS melalui lonjakan harga bensin di SPBU.
Kondisi ini berpotensi menekan anggaran rumah tangga, terutama bagi kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga akan meningkatkan biaya penyaluran barang yang mengangkut melalui truk. Kereta api, maupun pesawat udara.
Bahan bakar merupakan komponen biaya utama bagi maskapai penerbangan dan perusahaan logistik. Kenaikan harga energi dapat memicu lonjakan tarif pengiriman dan biaya logistik, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. Bagi sektor manufaktur, mahalnya energi juga dapat meningkatkan biaya operasional dan menggerus margin keuntungan.
Di luar dampak ekonomi langsung, penangkapan Maduro juga menambah ketidakpastian geopolitik global. Lonjakan risiko politik semacam ini kerap membuat pelaku usaha bersikap lebih berhati-hati. Termasuk dengan menunda ekspansi, investasi baru, maupun perekrutan tenaga kerja hingga kondisi dinilai lebih stabil.
Sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, atau setara dengan sekitar 17 persen dari total cadangan global.
Namun, potensi tersebut belum mampu dimaksimalkan. Produksi minyak Venezuela terus mengalami penurunan, dengan rata-rata produksi sekitar 1,1 juta barel per hari pada tahun lalu.
Tekanan Sanksi Internasional
Penurunan ini terjadi akibat bertahun-tahun salah urus, minimnya investasi. Serta tekanan sanksi internasional, terutama dari Amerika Serikat.
Sejumlah analis menilai perubahan rezim di Venezuela secara teori dapat membuka peluang peningkatan pasokan minyak ke pasar global.
Meski demikian, pemulihan produksi prediksinya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Infrastruktur migas yang menua, keterbatasan modal.
Serta ketidakpastian politik membuat peningkatan produksi secara cepat sulit terwujud. Selain itu, transisi kekuasaan yang berlangsung secara paksa sering kali justru menimbulkan gangguan pasokan dalam jangka pendek.
Saat ini, China tercatat sebagai pembeli utama minyak mentah Venezuela. Negara Amerika Latin itu juga dilaporkan memiliki utang sekitar US$ 10 miliar kepada China. Berdasarkan laporan Reuters. Kondisi ini membuat dinamika geopolitik tidak hanya melibatkan AS dan Venezuela, tetapi juga berpotensi menyeret kepentingan negara besar lainnya.
Dalam waktu dekat, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada respons harga minyak dan bahan bakar global terhadap perkembangan ini.
Pergerakan harga yang berkelanjutan dikhawatirkan dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi di AS. Pada gilirannya akan berdampak pada arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Jika tekanan harga energi bertahan, hal ini juga akan mempengaruhi ekspektasi inflasi dan prospek suku bunga ke depan,” tutup Jacobsen.








