Bandar Lampung (Lampost.co) — Harapan para gamer dan perakit PC di seluruh dunia untuk mendapatkan pasokan RAM DDR5 murah dari Tiongkok tampaknya harus pupus di awal tahun 2026 ini. ChangXin Memory Technologies (CXMT) adalah produsen memori terbesar di Tiongkok yang sebelumnya diharapkan menjadi penyeimbang harga pasar. Namun, perusahaan tersebut justru mengumumkan langkah strategis yang mengejutkan industri perangkat keras.
Fokus Dialihkan ke HBM3 Demi Sektor AI
Dalam laporan terbaru Februari 2026, CXMT secara resmi mengonfirmasi pengalihan fokus produksi mereka dari memori konsumen (DDR5) ke High-Bandwidth Memory generasi ketiga (HBM3). Langkah ini diambil untuk memenuhi lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa masif di pasar domestik Tiongkok maupun global.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi segmen PC konsumen. HBM3 adalah jenis memori kelas atas yang sangat krusial untuk akselerator AI seperti seri Huawei Ascend. Selain itu, dengan sanksi perdagangan global yang masih membatasi akses Tiongkok terhadap memori buatan Samsung, SK Hynix, dan Micron, CXMT kini menjadi tumpuan utama bagi kemandirian teknologi AI di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Data Produksi: 60 Ribu Wafer Per Bulan Dikuras untuk AI
Laporan industri menunjukkan bahwa CXMT telah mengalokasikan sekitar 20 persen dari total kapasitas produksinya untuk lini HBM3. Total kapasitas produksi diperkirakan mencapai 300.000 wafer per bulan pada tahun 2026. Artinya, sekitar 60.000 wafer per bulan tidak lagi menghasilkan chip RAM untuk PC atau laptop. Sebagai gantinya, produksi tersebut dialihkan sepenuhnya untuk kebutuhan server AI.
Para analis menyebutkan bahwa produksi HBM3 membutuhkan area wafer tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan memori DDR5 standar. Dampaknya, volume produksi memori untuk konsumen akan menyusut jauh lebih besar daripada persentase alokasi wafer tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan stok RAM DDR5 di pasaran dalam beberapa bulan ke depan.
Fenomena RAMmageddon 2026
Kondisi ini memperparah situasi pasar memori yang sudah tegang sejak akhir 2025. Istilah “RAMmageddon” mulai ramai digunakan oleh para pengamat teknologi di media sosial untuk menggambarkan lonjakan harga memori yang tidak terkendali. Data pasar per Februari 2026 menunjukkan harga modul DDR5-6000 32GB telah meroket hingga dua kali lipat dibandingkan harga tahun lalu.
Vendor PC besar seperti ASUS, Acer, dan HP sebelumnya mulai menjajaki penggunaan memori CXMT untuk menekan harga produk mereka. Namun, kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa biaya bahan baku tetap akan tinggi karena keterbatasan pasokan global.
Kemandirian Teknologi vs Harga Konsumen
Bagi Tiongkok, langkah CXMT adalah kemenangan besar dalam hal kedaulatan teknologi. Keberhasilan memproduksi massal HBM3 secara mandiri membuktikan bahwa gap teknologi mereka dengan produsen Korea Selatan dan Amerika Serikat semakin mengecil. Namun, bagi pengguna akhir, hal ini berarti era RAM murah telah berakhir untuk sementara waktu.
Bagi konsumen di Indonesia yang berencana melakukan upgrade atau merakit PC baru, disarankan untuk memantau pergerakan stok distributor dengan cermat. Selain itu, dengan tren permintaan AI yang belum menunjukkan tanda-tanda melambat, memori PC diprediksi akan menjadi komponen termahal dalam anggaran rakitan PC sepanjang tahun 2026.







