Kalianda (lampost.co)–Bagi sebagian orang, pukul sepuluh malam adalah waktu di mana dunia perlahan melambat. Lampu-lampu rumah mulai meredup, dan ponsel biasanya terletak jauh dari jangkauan agar istirahat tak terganggu. Namun, bagi Eko Irawan, ketenangan malam itu hanyalah jeda tipis yang siap pecah kapan saja oleh tanggung jawab.
Rabu malam, 8 April 2026, ponsel Camat Natar itu tiba-tiba berdering. Eko tahu benar, dering telepon di jam istirahat malam jarang membawa kabar biasa. Sebagai pimpinan di Natar, nalurinya langsung terjaga.
“Tadi warga Dusun Sukamaju, Desa Natar, melaporkan bahwa ada kabel listrik yang terbakar,” ujar Eko, mengisahkan kembali momen genting tersebut. Di seberang telepon, ia menangkap getar kepanikan dari warganya.
Malam itu, Eko menjadi pendengar yang baik bagi warganya yang sedang khawatir. “Warga khawatir api akan merembet, jadi mereka meminta untuk segera mengirimkan armada pemadam kebakaran,” tambahnya.
Tanpa membuang waktu untuk menanyakan mengapa mereka tidak langsung menghubungi nomor darurat, Eko segera menggerakkan jalur koordinasi. Baginya, fakta bahwa warga mencarinya di saat sulit adalah sebuah bentuk kepercayaan.
Menjaga Warga
Hanya dalam hitungan menit setelah instruksinya keluar, armada Damkar Posko Natar sudah tiba di lokasi. Eko tetap memantau situasi, memastikan bahwa kehadiran pemerintah benar-benar sampai ke pekarangan rumah warganya.
Baginya, dering telepon malam itu bukanlah gangguan. Itu adalah pengingat bahwa tugas seorang pemimpin tidak pernah benar-benar selesai saat matahari terbenam.








